Gawai Dayak Perkuat Empat Pilar Kelestarian Masyarakat Adat

  • 07 Jul 2026 21:07 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong - Pemontuh Agung Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sanggau, Paolus Hadi menegaskan, eksistensi masyarakat adat Dayak tetap kokoh setelah 22 tahun penyelenggaraan Gawai Dayak Nosu Minu Podi. Menurutnya, keberlangsungan gawai menjadi bukti nyata bahwa identitas, nilai budaya, dan kelembagaan adat Dayak masih hidup serta terus berkembang di tengah tantangan modernisasi.

"22 tahun Gawai Nosu Minu Podi berlangsung tanpa terputus menunjukkan masyarakat Dayak memiliki daya lestari yang kuat. Ini bukan sekadar perayaan budaya, tetapi bukti bahwa adat, tradisi, dan jati diri kita tetap bertahan dan diwariskan dari generasi ke generasi," kata Paolus Hadi, Selasa, 7 Juli 2026.

Paolus menjelaskan, terdapat empat pilar utama yang menjadi kekuatan masyarakat adat Dayak hingga saat ini, yakni keberadaan struktur kelembagaan adat, pelestarian bahasa ibu, keberlangsungan adat istiadat yang hidup berdampingan dengan agama, serta pengakuan terhadap wilayah adat. Keempat unsur tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan masyarakat adat sekaligus memperkuat posisi Dayak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Kita masih memiliki ketemenggungan, pengurus adat di setiap wilayah, bahkan kini kelembagaan adat sudah diperkuat hingga tingkat nasional. Karena itu, saya mengajak seluruh orang tua tetap mengajarkan bahasa daerah kepada anak-anak agar identitas budaya kita tidak hilang ditelan perkembangan zaman," ujarnya.

Selain menjaga budaya, ia mengingatkan masih besarnya tantangan yang dihadapi masyarakat adat, terutama menyangkut perlindungan wilayah adat yang kerap berhadapan dengan berbagai kepentingan. Ia menilai, masyarakat Dayak harus semakin memahami regulasi dan memperkuat kapasitas sumber daya manusia agar mampu memperjuangkan hak-hak adat secara konstitusional.

"Generasi muda harus tampil di garda terdepan untuk memahami aturan, membangun kemampuan bernegosiasi, dan memperjuangkan hak masyarakat adat sesuai ketentuan hukum. Kita tidak cukup hanya bangga dengan budaya, tetapi juga harus mampu menjaga tanah adat dan masa depan masyarakat Dayak melalui pengetahuan dan kapasitas yang kuat," tegasnya.

Paolus berharap, Gawai Dayak Nosu Minu Podi tidak hanya menjadi ruang pelestarian tradisi, tetapi juga menjadi momentum memperkuat persatuan, meningkatkan kualitas generasi muda, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas Dayak. Ia mengajak, seluruh masyarakat terus menjaga daya lestari, martabat budaya, dan semangat kebersamaan agar warisan leluhur tetap hidup dan memberi manfaat bagi generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....