Harta, Dunia, dan Lupa akan Akhirat

  • 25 Mei 2026 15:33 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong - Di tengah derasnya arus kehidupan modern, manusia kerap tanpa sadar menempatkan cinta kepada dunia di atas segalanya. Harta, jabatan, popularitas, dan kenikmatan sesaat menjadi tujuan utama yang dikejar tanpa henti, hingga perlahan melalaikan hubungan yang paling hakiki, yaitu cinta kepada Allah.

Pelaksana KUA Kecamatan Sekayam H. Kadarusno, menjelaskan bahwa ada baiknya untuk meluangkan sedikit waktu untuk menenangkan diri dan merenung di tengah padatnya aktivitas hidup. Dalam perjalanan mengejar berbagai urusan dunia seperti harta, pekerjaan, dan keluarga, sering kali tanpa disadari hati perlahan lebih banyak terpaut pada hal-hal tersebut.

"Hari ini kita luangkan waktu sejakan untuk bertanya kepada diri kita masing - masing siapakah yang paling kita cintai di dunia ini apakah harta kita, pekerjaan kita, keluarga kita, atau justru pencipta dari semua itu yaitu Allah SWT," ungkap Kadarusno, dalam Obrolan Mutiara Pagi Islam RRI Pro1 Sanggau.

Ia menyampaikann bahwa secara fitrah, manusia dianugerahi rasa cinta terhadap keindahan dunia. Allah SWT telah menjelaskan dalam Surah Ali ‘Imran ayat 14 bahwa kecintaan tersebut memang telah dihiasi dalam pandangan manusia, sehingga berbagai hal di dunia terasa menarik dan menggoda untuk dimiliki.

"Allah SWT berfirmaan dalam surah Al- Imran Ayat 14 yang artinya dijadikan rasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan terhadap perempuan - perempuan, anak - anak, harta benda bertumpul dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan hewan ternak dan sawah ladang itulah kesenangan hidup di dunia dan disisi Allah lah tempat untuk kembali yang baik," jelasnya.

Dikatakan, mencintai dunia, keluarga, dan harta tidaklah dilarang dalam Islam, karena itu merupakan bagian dari fitrah dan kebutuhan manusia dalam menjalani kehidupan. Namun, yang menjadi persoalan besar adalah ketika kecintaan terhadap dunia tersebut melampaui batas hingga mengalahkan cinta kepada Allah SWT tentu Kondisi ini dapat membuat hati lebih sibuk mengejar kenikmatan dunia, melalaikan kewajiban kepada Allah SWT.

"Mencintai dunia, keluarga dan harta tidaklah dilarang dalam Islam, itu adalah hal manusiawi namun yang menjadi masalah besar adalah ketika cinta dunia itu mengalahkan cinta kita kepada Allah SWT," katanya.

Tambahnya, demi mengejar harta, sebagian orang rela meninggalkan shalat yang merupakan kewajiban utama dalam Islam. Demi menjaga gengsi di hadapan manusia, tidak sedikit yang berani melanggar syariat demi terlihat baik di mata orang lain.

"Demi mengejar harta kita rela meninggalkan shalat, ketika demi menjaga gengsi dimata manusia kita rela melanggarkan syariat, bahkan Allah sudah memberikan peringatan keras pada Ayat Al-Qur'an," ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....