Tugas Istri dalam Rumah Tangga menurut Islam
- 29 Apr 2026 08:29 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Pola pikir yang menempatkan seluruh urusan domestik sebagai tanggung jawab penuh seorang istri hingga kini masih cukup mengakar dan kerap dianggap sebagai hal yang lumrah di tengah masyarakat. Padahal, pemahaman semacam ini perlu diluruskan secara perlahan namun tegas, karena berpotensi menimbulkan ketimpangan peran dalam rumah tangga yang pada akhirnya dapat memengaruhi keharmonisan, keseimbangan, serta kualitas hubungan dalam kehidupan berkeluarga.
Dosen Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (Institut Agaman Islam Nasional (IAIN) Pontianak, Dinda Izzati, menyatakan bahwa pemahaman mengenai peran suami dan istri seharusnya dikembalikan pada prinsip dasar keseimbangan yang adil dan proporsional. Berbagai kebiasaan lama yang terus diwariskan tanpa proses kritis justru perlahan membentuk pola patriarki dalam rumah tangga, yang kerap menempatkan salah satu pihak pada posisi yang kurang setara.
"Kesetaraan itu tentang pemenuhan hak dan kewajiban masing-masing. Bahkan pekerjaan rumah itu sebenarnya bagian dari tanggung jawab suami juga, bukan hanya istri," ungkap Dinda dalam Obrolan Pengarusutamaan Gender RRI Sanggau, Senin, 27 April 2026.
Dinda menjelaskan bahwa budaya patriarki tidak muncul secara instan, melainkan terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi tanpa pernah dikritisi atau ditinjau ulang. Kondisi ini kemudian membentuk pola relasi dalam rumah tangga yang tidak seimbang, di mana salah satu pihak kerap menanggung beban lebih besar, baik secara fisik maupun emosional.
Ia katakan bahwa posisi laki-laki sebagai pemimpin dalam rumah tangga tidak serta-merta berarti memiliki kuasa penuh tanpa batas dan tanpa tanggung jawab. Justru, kepemimpinan tersebut harus diwujudkan melalui keteladanan, kebijaksanaan, serta kemampuan untuk melindungi dan mengayomi, sehingga tercipta hubungan yang adil dan saling menghargai.
"Pemimpin itu bukan berarti semaunya sendiri, tapi harus memberi contoh. Dalam Islam, ketika ada kesalahan, bukan dipukul, tapi diberi teladan," katanya.
Disampaikannya, tidak sedikit kesalahpahaman dalam menafsirkan teks-teks keagamaan yang justru berujung pada penguatan praktik-praktik yang tidak adil dalam kehidupan rumah tangga. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam, komprehensif, dan kontekstual agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat diterapkan secara tepat serta selaras dengan prinsip keadilan dan keseimbangan.
"Kalau hanya memahami secara tekstual, bisa salah makna. Padahal inti ajaran itu adalah memuliakan perempuan dan menciptakan keseimbangan," ujarnya.
Pembagian peran dalam rumah tangga kata Dinda, idealnya bersifat fleksibel, adaptif, dan dibangun atas dasar kesepakatan bersama antara pasangan. Hal ini menjadi penting agar tidak ada pihak yang merasa terbebani secara berlebihan, sekaligus menciptakan suasana yang lebih adil, nyaman, dan saling mendukung dalam menjalani kehidupan berkeluarga.
Dinda mengimbau masyarakat untuk mulai berani mengubah pola pikir lama yang sudah tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan saat ini. Rumah tangga yang sehat dan harmonis tidak dibangun atas dasar dominasi salah satu pihak, melainkan melalui kerja sama yang seimbang, saling pengertian, dan komitmen bersama dalam menjalankan peran masing-masing.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....