“Setan Gepeng” Jadi Ancaman Baru Generasi Muda, Penyebab Rusaknya Akhlak
- 21 Mei 2026 12:47 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Kemajuan teknologi yang semestinya menjadi sarana mempermudah kehidupan dan mempererat hubungan antarmanusia, kini justru dinilai turut membawa dampak mengkhawatirkan terhadap degradasi moral generasi muda. Fenomena anak yang kian menjauh dari nilai adab dan sopan santun, memudarnya kewibawaan orang tua di dalam rumah tangga, hingga renggangnya hubungan keluarga akibat derasnya pengaruh media sosial dan dunia digital, menjadi perhatian serius.
Penyuluh Agama Islam Kecamatan Parindu, Ageng Setia Perdana, menilai derasnya arus digitalisasi yang masuk tanpa batas ke ruang kehidupan masyarakat perlahan mulai mengikis nilai keteladanan di dalam keluarga. Penggunaan gawai yang tidak disertai pengawasan dan kontrol dari orang tua menjadi salah satu faktor utama memudarnya komunikasi hangat, kedekatan emosional, serta ikatan batin antaranggota keluarga di dalam rumah tangga.
“Kalau kami pribadi itu memberi stempel pada handphone, katakanlah itu adalah setan gepeng. Zaman sekarang persentase memegang Al-Qur'an mungkin kalah dengan persentase memegang gadget,” ungkap Ageng dalam Obrolan Mutiara Pagi RRI Sanggau, Kamis 21 Mei 2026.
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi sejatinya bukanlah sesuatu yang harus dimusuhi, sebab kemajuan digital juga membawa banyak manfaat dalam kehidupan modern. Namun, teknologi dapat berubah menjadi ancaman ketika orang tua gagal membangun kontrol, pengawasan, serta keteladanan yang kuat di lingkungan keluarga, sehingga anak lebih mudah larut dalam pengaruh negatif dunia maya dibandingkan mendengar nasihat dari orang tua mereka sendiri.
“Banyak orang tua zaman sekarang itu lebih pandai mauidzah hasanah daripada uswatun hasanah. Pandai berbicara baik, tetapi sedikit yang memberi contoh baik,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut perlahan membuat anak kehilangan sosok figur utama yang seharusnya menjadi tempat bersandar, bercerita, dan mencari teladan dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, banyak anak justru merasa lebih nyaman mencari pelarian di dunia digital, sementara kebiasaan menyimpan rahasia melalui telepon genggam serta minimnya keterbukaan dalam keluarga dinilai semakin memperlebar jarak emosional antara orang tua dan anak.
“Kita harus jadi figur seperti Nabi Ibrahim, melakukan pendekatan psikologis dan emosional kepada anak. Kalau hanya menuntut tanpa memberi teladan, maka nasihat sebanyak apapun tidak akan masuk ke hati anak,” jelasnya.
Ageng mengajak masyarakat untuk kembali memperkuat nilai agama, komunikasi keluarga, serta pengawasan terhadap penggunaan teknologi di lingkungan rumah tangga. Ia berharap keluarga mampu menjadi benteng utama agar generasi muda tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus digitalisasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....