Kisah Perjuangan Difabel Menembus Akses Pendidikan
- 23 Feb 2026 06:34 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Perjalanan pendidikan bagi penyandang disabilitas masih menyisakan tantangan yang tidak ringan. Penolakan dan stigma kerap menjadi hambatan awal sebelum kesempatan benar-benar terbuka.
Tuti Alawiyah, difabel fisik (tuna daksa) pengguna kursi roda asal Jakarta, menceritakan pengalaman masa kecil saat menghadapi penolakan dari sejumlah sekolah dasar. Ia mengaku sempat merasa terpukul karena kondisi fisiknya dianggap berbeda.
“Saya pernah ditolak di beberapa sekolah dasar karena kondisi fisik saya dianggap berbeda. Saat itu saya sempat merasa putus asa dan mempertanyakan apakah saya memang tidak berhak sekolah,” kata Tuti dalam Program Ruang Disabilitas dan Inklusi RRI Entikong, Sabtu 21 Februari 2026.
Ia menjelaskan dukungan keluarga menjadi kekuatan utama untuk bangkit dari keterpurukan. Perjuangan orang tua yang terus mencari sekolah membuatnya kembali percaya diri untuk melanjutkan pendidikan
| Baca juga: Menjemput Mimpi di tengah Keterbatasan Fisik |
“Orang tua saya tidak pernah membedakan saya dengan saudara yang lain dan terus memperjuangkan pendidikan saya. Dari situ saya sadar bahwa saya tidak boleh menyerah hanya karena penolakan,” ungkap Tuti.
Ia mengatakan proses pendidikannya tidak berjalan instan karena harus memulai dari sekolah khusus sebelum masuk sekolah formal. Tantangan kemandirian juga menjadi syarat penting saat melanjutkan ke jenjang berikutnya.
“Ketika masuk sekolah formal saya diminta untuk lebih mandiri agar tidak selalu bergantung pada orang lain. Saya belajar menggunakan tongkat agar bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah,” ujarnya.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat membuka kesadaran bahwa akses pendidikan harus setara bagi semua anak di Indonesia. Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak lagi memandang keterbatasan fisik sebagai alasan menutup kesempatan belajar dan bertumbuh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....