Fenomena Ramadan: Euforia di Awal, Meredup di Akhir

  • 11 Feb 2026 13:56 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong - Setiap Ramadan tiba, suasana religius terasa begitu kuat, masjid penuh dan semangat ibadah menggebu. Namun, tak jarang euforia itu hanya bertahan di awal dan perlahan meredup seiring waktu.

Momentum bulan suci Ramadan sejatinya merupakan waktu yang sangat menentukan. Ia adalah kesempatan emas yang tidak datang terus-menerus, saat terbaik untuk melakukan perubahan besar dalam kehidupan spiritual seorang muslim.

“Momentum bulan suci Ramadan ini untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah, serta meraih ridho Allah Swt,” ujar Mohammad Nurchasani, Pelaksana KUA Kecamatan Sekayam, dalam Obrolan Mutiara Pagi Islam RRI Entikong, Rabu 11 Februari 2026.

Menurutnya, pada bulan Ramadan pahala dilipatgandakan dengan sangat besar. Pintu ampunan Allah Swt terbuka seluas-luasnya bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh mencarinya.

“Pertanyaannya, sudahkah kita mempersiapkan momentum bulan suci Ramadan ini untuk meraih bonus dari Allah Swt,” katanya.

Ia menyoroti realitas sosial yang kerap terjadi setiap Ramadan, yakni euforia ibadah yang bersifat sementara. Fenomena ini telah lama disampaikan para ustaz dan mubalig, di mana masjid-masjid penuh di awal Ramadan, bahkan masjid kecil harus menambah tenda.

“Namun di pertengahan Ramadan shaf mulai maju, dan di akhir Ramadan semakin ke depan,” ungkap Nurchasani.

Kondisi tersebut kata Nurchasani, menandakan berkurangnya jamaah yang memakmurkan masjid. Semangat ibadah pun kerap menyusut dan hanya bersifat seremonial, tanpa benar-benar menyentuh kedalaman jiwa.

“Padahal sejatinya, bulan suci Ramadan adalah pendidikan yang sangat berharga untuk melatih diri agar semakin dekat kepada Allah,” jelasnya.

Ia menilai, kondisi ini terjadi karena kurangnya kesiapan dalam menyambut Ramadan. Persiapan yang dilakukan sering kali hanya bersifat material, seperti memikirkan menu sahur dan berbuka.

Sementara itu, persiapan spiritual justru kerap terabaikan, seperti berapa juz Al-Qur’an yang sudah dibaca, seberapa rutin bersedekah, dan sejauh mana ibadah mampu membentuk kepribadian yang lebih baik. Karena itu, Nurchasani mengingatkan pentingnya mempersiapkan Ramadan secara menyeluruh. sebab Rasulullah Saw bahkan bersabda, sangat merugi seseorang yang memasuki bulan Ramadan, namun keluar darinya tanpa memperoleh ampunan dosa.

“Jangan sampai Ramadan berlalu begitu saja, tanpa perubahan berarti dalam diri kita,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....