Perbedaan Awal Ramadhan dalam Perspektif Fikih
- 18 Feb 2026 11:50 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong – Menjelang penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah, dinamika perbedaan metode penentuan awal puasa kembali menjadi perhatian umat Islam di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Sanggau. Di tengah perbincangan tersebut, Muhammadiyah menegaskan bahwa perbedaan bukanlah sumber perpecahan, melainkan bagian dari kekayaan khazanah fikih Islam.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sanggau, Muhammad Hasbi, menyampaikan bahwa perbedaan dalam menentukan awal Ramadan telah terjadi sejak masa sahabat Nabi Muhammad SAW. Hal itu muncul karena adanya ragam metode dan ijtihad ulama dalam memahami dalil.
“Bagi Muhammadiyah, perbedaan dalam menentukan awal Ramadan adalah bagian dari khazanah fikih yang sesungguhnya telah ada sejak zaman silam. Ini merupakan hasil ijtihad ulama yang harus dihormati,” ujar Hasbi dalam Dialog Entikong Menyapa, Selasa 17 Februari 2026.
Ia menjelaskan, Muhammadiyah secara konsisten menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal dalam menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Metode tersebut didasarkan pada perhitungan astronomi yang akurat dan telah lama menjadi pedoman resmi organisasi dalam menyusun kalender hijriah.
Menurut Hasbi, setiap metode memiliki dasar dalil dan pendekatan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, perbedaan yang muncul setiap tahun tidak seharusnya memicu polemik berlebihan di tengah masyarakat.
“Perbedaan metode bukan alasan untuk terpecah. Justru ini menunjukkan keluasan fikih Islam yang memberi ruang ijtihad sesuai perkembangan ilmu pengetahuan,” ungkapnya.
Ia mengajak umat Islam untuk lebih mengedepankan sikap saling menghormati serta menjaga persatuan, terutama dalam menyambut bulan suci yang penuh berkah. Ramadan, katanya, seharusnya menjadi momentum mempererat ukhuwah, bukan memperuncing perbedaan.
Muhammadiyah Sanggau juga mengimbau masyarakat mempersiapkan diri secara lahir dan batin dalam menyambut Ramadan 1447 H. Dengan kedewasaan sikap dan semangat persaudaraan, perbedaan penetapan awal puasa diharapkan tetap berada dalam koridor persatuan umat serta memperkuat nilai kebersamaan di tengah masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....