Kasus Anak NTT, Satgas PPA Ceritakan Penanganan Serupa

  • 09 Feb 2026 22:48 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong - Rusiati, Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak, memberikan tanggapan terkait kasus tragis seorang siswa kelas 4 SD di NTT yang nekat mengakhiri hidupnya karena tidak bisa membeli buku dan bolpoin. Ia mengaku, kebetulan sudah ada tiga kasus serupa yang pernah didampingi.

Ia menegaskan, kasus seperti ini merupakan tanggung jawab bersama dan bukan hanya satu pihak saja. Tetapi membutuhkan kepekaan dari lingkungan sekitar.

“Jadi salah satu kasus yang saya dampingi terjadi di daerah padat penduduk, tetapi masyarakat sekitarnya kurang peduli,” ujarnya dalam Obrolan Pengarusutamaan Gender RRI Entikong, Senin 9 Februari 2026.

Rusiati menyebut, informasi tersebut juga datang dari seorang teman terkait keluarga yang kehidupannya sangat memprihatinkan. Keluarga ini tidak memiliki tempat tinggal tetap dan hanya dipimpin oleh seorang ibu dengan tiga anak, masing-masing berusia 5 tahun, 4 tahun, dan 1,5 tahun.

Ibu tersebut mencari makan dengan cara ngeramban, istilah orang Jawa untuk memetik dedaunan liar sebagai sayuran. Sebagian dijual untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sebagian dimasak untuk dikonsumsi anak-anak, sehingga gizinya tidak tercukupi.

“Di sekitar rumahnya, dia kadang bekerja mengupas bawang merah milik tetangga, dan baru diberi upah jika tersedia. Sekilo bawang merah dihargai sekitar seribu rupiah,” jelasnya.

Permasalahan semakin rumit karena ibu ini memiliki administrasi kependudukan di luar daerah, sehingga koordinasi dilakukan dengan KPAI Provinsi. Langkah awal yang dilakukan adalah memproses administrasi kependudukan dan mencari tempat tinggal aman bagi anak-anaknya.

“Selanjutnya, nanti akan mendapat pelatihan atau bantuan usaha. Namun, proses administrasi terkendala karena ibu tersebut menikah beda agama,” ungkap Rusiati.

Untungnya, kata Rusiati, dinas terkait cukup paham dan sangat membantu dalam memastikan hak-hak warga terpenuhi. Kemudian, lurah setempat telah diberi informasi agar mengawasi keluarga tersebut dan menghubungkan anak-anak ke posyandu.

Rusiati menekankan pentingnya dukungan bersama untuk memastikan hak-hak dasar warga terpenuhi. Langkah ini diharapkan mencegah terulangnya kejadian serupa di kemudian hari.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....