Stereotipe Hambat Pelaporan Kekerasan Perempuan dan Anak

  • 09 Feb 2026 11:17 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong – Masih rendahnya angka pelaporan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak menjadi perhatian serius di tengah masyarakat. Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah masih kuatnya stereotipe sosial yang berkembang di lingkungan masyarakat.

Anggota Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak, Rusiati, mengatakan bahwa masih banyak korban maupun masyarakat yang enggan melapor karena adanya stereotipe terkait ketidaksetaraan umur, profesi pekerjaan, status sosial, serta faktor-faktor lainnya. Menurutnya, pandangan tersebut sering kali membuat korban merasa tidak berdaya dan takut untuk bersuara.

“Masih banyak yang belum mau melapor karena adanya stereotipe, seperti perbedaan usia, profesi pekerjaan, atau status sosial. Hal ini membuat korban merasa takut dan ragu untuk melaporkan kasus kekerasan,” ujar Rusiati dalam Obrolan Pengarusutamaan Gender RRI Entikong, Senin 9 Februari 2026.

Ia mengakui, stereotipe tersebut kerap membuat masyarakat menganggap bahwa pelaku yang lebih tua, memiliki jabatan, atau status sosial tertentu tidak mungkin melakukan kekerasan. Akibatnya, korban justru disalahkan atau dianggap berlebihan.

“Padahal, kekerasan bisa terjadi pada siapa saja dan dilakukan oleh siapa saja, tanpa melihat usia atau latar belakang pekerjaan,” ujarnya.

Rusiati menjelaskan, penghapusan stereotipe di masyarakat perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui edukasi dan kampanye kesadaran publik. Kolaborasi antara pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga perlindungan, tokoh masyarakat, dan media dinilai penting untuk membangun lingkungan yang adil dan berpihak pada korban.

Selain itu, kata Rusiati, masyarakat juga diimbau untuk memberikan dukungan kepada korban dan tidak menghakimi. Lingkungan yang aman dan suportif akan mendorong korban maupun saksi untuk berani melapor.

“Dengan menghilangkan stereotipe dan stigma, kita bisa membuka ruang yang aman bagi korban untuk melapor. Perlindungan perempuan dan anak membutuhkan kesadaran dan kepedulian semua pihak,” terangnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....