Bangun Sistem Pertanian Terpadu, OMK Pax Christi Mbaumuku Usung Circular Farming

  • 03 Okt 2026 13:52 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai — Upaya membangun sistem pertanian yang terpadu dan berkelanjutan dilakukan oleh Orang Muda Katolik (OMK) Pax Christi Mbaumuku, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

OMK ini mengembangkan usaha tani dan peternakan dengan menerapkan konsep circular farming, yang menghubungkan kebun jagung, tanaman hortikultura, serta kandang ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) dalam satu rangkaian siklus usaha yang saling mendukung.

Konsep tersebut memberi ruang bagi anggota OMK untuk memanfaatkan sumber daya lokal, mengolah limbah ternak menjadi pupuk, sekaligus mengembangkan keterampilan pengelolaan usaha.

Pendekatan itu juga membuka peluang bagi kelompok untuk memperkuat pendapatan dan membangun kemandirian ekonomi anak muda. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng mendampingi proses pengembangan usaha tersebut.

Tim terdiri atas drh. Elisabeth Yulia Nugraha, S.KH., M.Si. sebagai ketua, Nautus Stivano Dalle, S.Pt., M.Pt., dan Dr. Hilarius Yosef Sikone, S.Pt., M.P., serta mahasiswa Anna Maria Anjanita Farini dan Bonifasius Le’u.

Drh. Yulia menjelaskan bahwa Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendanai kegiatan tersebut melalui anggaran tahun 2026.

Anggota OMK Pax Christi menanam jagung dan berbagai tanaman hortikultura serta memelihara ayam KUB. Mereka kemudian menghubungkan aktivitas kebun dan kandang agar hasil samping dari satu kegiatan dapat mendukung kegiatan lainnya.

Tim PkM mendampingi anggota dalam meningkatkan mutu bibit, mengatur produksi, serta mengenali dan memilih telur yang berpotensi menghasilkan bibit. Anggota juga mempelajari pengolahan feses ayam menjadi bokashi sebagai pupuk organik untuk kebun.

Ketua Tim PkM, drh. Yulia, mengatakan konsep circular farming membantu kelompok membangun hubungan antara usaha tani dan ternak.

“Pola ini membuat kebun dan kandang saling menunjang,” katanya.

Melalui pola tersebut, kelompok tidak hanya melihat kebun dan kandang sebagai dua usaha yang terpisah. Mereka mulai memanfaatkan hasil dari masing-masing kegiatan untuk mendukung keberlanjutan usaha secara keseluruhan.

Salah satu praktik yang mendapat perhatian dalam pendampingan yaitu pengolahan feses ayam menjadi bokashi. Kelompok dapat menggunakan pupuk organik tersebut untuk mendukung kegiatan pertanian.

Di sisi lain, jagung dan hasil hortikultura juga berpotensi mendukung kebutuhan pakan ternak. Pola ini mendorong anggota memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.

“Dengan cara itu, kelompok dapat memanfaatkan kembali sumber daya yang tersedia, mengurangi pemborosan, dan menekan ketergantungan pada input dari luar,” kata Yulia.

Menurutnya, konsep tersebut juga mengajak anggota melihat limbah sebagai peluang yang dapat memberikan nilai ekonomi, bukan sekadar sisa kegiatan produksi.

Selain aspek produksi, Tim PkM Unika St. Paulus Ruteng juga mendampingi OMK Pax Christi dalam membangun tata kelola usaha. Anggota mulai mencatat produksi dan keuangan, menyusun standar operasional prosedur (SOP), serta melakukan evaluasi kegiatan.

Catatan produksi dan keuangan membantu kelompok menghitung biaya, melihat hasil usaha, dan menentukan langkah pengembangan berikutnya.

Tim juga menyiapkan penguatan pada aspek identitas produk, pengemasan, promosi, pemanfaatan media digital, dan perluasan jaringan pasar.

Yulia menilai pemasaran perlu mendapat perhatian sejak awal agar peningkatan produksi berjalan seiring dengan kemampuan kelompok menjangkau konsumen.

“Ke depan, tantangannya bukan hanya bagaimana kelompok mampu menghasilkan produk, tetapi bagaimana produk tersebut memiliki nilai tambah,” ujar Yulia yang juga Sekretaris Wakil Rektor III Unika Ruteng.

Konsep zero waste juga dapat menjadi identitas produk OMK Pax Christi. Kelompok dapat menunjukkan kepada konsumen bagaimana mereka mengolah limbah ternak menjadi pupuk sekaligus memanfaatkan sumber daya lokal dalam proses produksi.

Bagi anggota OMK Pax Christi, pendampingan tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan teknis, tetapi juga mengubah cara mereka melihat hubungan antara usaha kebun dan kandang.

Ketua OMK Pax Christi, Rio, mengatakan kelompok sebelumnya menjalankan kegiatan kebun dan kandang secara terpisah. Pendampingan membuat mereka mulai memahami cara menghubungkan kedua kegiatan tersebut.

“Selama ini kami jalan sendiri-sendiri antara kebun dan kandang. Sekarang kami mulai belajar bagaimana limbah dari satu sisi bisa menjadi manfaat untuk sisi lainnya. Dari kotoran ayam misalnya, kami belajar mengolahnya menjadi pupuk untuk mendukung kegiatan di kebun,” ujar Rio.

Melalui pendampingan Tim PkM Unika Santu Paulus Ruteng, OMK Pax Christi kini mengembangkan keterampilan produksi, tata kelola usaha, dan pemasaran secara lebih terintegrasi.

Kelompok berharap hasil kebun dan kandang dapat menjangkau lebih banyak konsumen, meningkatkan pendapatan, serta membuka peluang kemandirian ekonomi bagi kaum muda di Mbau Muku.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....