Bunda Literasi Manggarai Dorong Sekolah-sekolah Bentuk Komunitas Debat
- 19 Mei 2026 21:31 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai – Bunda Literasi sekaligus Ketua TP PKK Kabupaten Manggarai, Meldiyanti Hagur Marcelina Nabit, mendorong seluruh sekolah di Kabupaten Manggarai untuk mulai membentuk komunitas debat sebagai bagian dari upaya meningkatkan budaya literasi dan kemampuan berpikir kritis siswa.
Hal tersebut diutarakannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi di Aula Ranaka Kantor Bupati Manggarai, Selasa, 19 Mei 2026. Menurutnya, kemampuan literasi anak perlu terus diperkuat sejak dini, terutama di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi digital yang semakin cepat.
Meldiyanti menjelaskan bahwa penguatan literasi dapat dimulai dari kebiasaan membaca hal-hal yang disukai agar anak lebih mudah memahami informasi dan belajar secara mandiri. Setelah itu, anak juga perlu didorong untuk menulis kembali isi bacaan yang telah mereka pahami tersebut.
| Baca juga: 10 Anak di NTT Terpapar Radikalisme Digital |
Menurutnya, tahapan berikutnya yang tidak kalah penting adalah debat atau diskusi. Melalui debat, anak-anak belajar menyampaikan pendapat, menerima tanggapan dari orang lain, serta melatih keberanian dan rasa ingin tahu mereka. Karena itu, ia berharap sekolah-sekolah mulai membentuk komunitas debat maupun komunitas literasi lainnya sesuai minat peserta didik.
"Melalui debat, anak-anak dilatih untuk tidak sekadar diam, melainkan berani menyatakan literasi mereka sekaligus menjawab rasa ingin tahu (curiosity) yang tinggi," ujar Meldiyanti.
Ia menilai, pembentukan komunitas literasi tidak bisa dilakukan secara seragam. Guru perlu memetakan minat dan potensi setiap siswa agar kegiatan yang dibentuk benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak dan dapat berjalan dalam jangka panjang.
Selain itu, Meldiyanti menegaskan bahwa kemampuan literasi tidak hanya diukur dari kemampuan membaca dan menulis semata. Menurutnya, penguatan literasi juga harus menyentuh berbagai aspek kecerdasan, mulai dari kognitif, sosial, afektif, psikomotorik hingga spiritual.
Dalam hal ini, guru memiliki peran penting dalam mendampingi dan membentuk karakter peserta didik. Guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga menjadi pengasih, pengasuh, dan pengarah bagi perkembangan kemampuan anak di sekolah.
"Guru memiliki peran penting sebagai pengasih, pengasuh, dan pengasah bagi peserta didik, guna menciptakan literasi yang terintegrasi dan terpola dengan baik," ungkapnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa fondasi utama literasi tetap berasal dari keluarga. Karena itu, orang tua diharapkan mampu menciptakan suasana rumah yang nyaman agar anak terbiasa membaca, belajar, dan berdiskusi sejak dini.
Dalam kesempatan tersebut, Meldiyanti juga menyoroti maraknya fenomena pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol) di tengah masyarakat. Ia menilai, tingginya kasus pinjol dan judol menunjukkan masih rendahnya kemampuan sebagian masyarakat dalam menyaring dan memahami informasi yang diterima di ruang digital.
"Masyarakat yang terjebak pinjol dan judol ini masuk dalam kategori subjek yang gagal informasi," tutur Meldiyanti.
Ia menilai rendahnya literasi informasi membuat seseorang lebih mudah terjebak dalam keputusan yang merugikan diri sendiri maupun lingkungan sosial. Ia masyarakat agar lebih bijak dan kritis dalam menggunakan teknologi serta menyaring informasi di era digital.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....