Kapolda NTT Resmikan Revitalisasi MI Al-Hidayah di Pulau Kukusan, Manggarai Barat
- 02 Sep 2026 08:20 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Kapolda NTT Irjen Pol. Rudi Darmoko meresmikan revitalisasi MI Al-Hidayah di Pulau Kukusan, Manggarai Barat, Selasa, 1 September 2026. Kunjungan tersebut sekaligus menjadi rangkaian penyaluran bantuan kemanusiaan bagi warga terdampak gempa bumi Flores di wilayah kepulauan tersebut.
Kegiatan berlangsung di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur dengan melibatkan jajaran Polda NTT. Rombongan Kapolda turut didampingi Ketua Bhayangkari Daerah NTT Ny. Vily Rudi Darmoko, Wakapolda Brigjen Pol. Faizal dan pejabat utama.
MI Al-Hidayah menjadi perhatian karena merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang melayani anak-anak di Pulau Kukusan selama ini. Madrasah itu berdiri sejak 2001, tetapi keterbatasan fasilitas membuat proses belajar mengajar sebelumnya berlangsung dalam keterbatasan sarana utama.
Direktorat Polairud Polda NTT mulai merevitalisasi dua ruang kelas pada Juni 2026 sebagai bagian dari dukungan pendidikan setempat. Setelah perbaikan selesai, kegiatan belajar mengajar kini dapat berlangsung di empat ruang kelas yang lebih layak digunakan siswa.
Kepala MI Al-Hidayah, Husen, mengatakan perjuangan menyediakan pendidikan di Pulau Kukusan selama ini menghadapi keterbatasan sarana dan tenaga pendidik. Sekolah tersebut kini menampung 46 siswa yang mengikuti pembelajaran bersama empat orang tenaga guru di empat ruang kelas.
Sebelum revitalisasi, hanya dua ruang kelas yang dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar secara rutin setiap hari sebelumnya. Sebagian siswa kemudian belajar di ruang terbuka, bahkan berada di bawah pohon ketika kelas tidak mencukupi untuk mereka.
Husen menyebut kondisi tersebut membuat proses pembelajaran sering terganggu, termasuk oleh hewan ternak yang berkeliaran sekitar sekolah setempat. Perbaikan dua ruang kelas pada Juni lalu mengubah kapasitas belajar sehingga seluruh siswa kini memiliki ruang lebih memadai.
Kondisi sekolah tersebut menjadi perhatian Kapolda NTT ketika melihat langsung fasilitas pendidikan dan mendengar pengalaman para guru setempat. Rudi mengakui masih terdapat sekolah di wilayah NTT yang membutuhkan dukungan agar kegiatan pendidikan dapat berjalan lebih baik.
Dalam pertemuan itu, Husen juga menyampaikan persoalan kualifikasi akademik tenaga pendidik yang masih menjadi tantangan bagi madrasah setempat. Menurut Husen, dirinya sebagai kepala madrasah juga belum memiliki kualifikasi sarjana, tetapi tetap menjalankan tugas pendidikan setiap hari.
Semangat guru bertahan di tengah keterbatasan menjadi bagian yang disoroti Kapolda saat berdialog bersama pengelola sekolah tersebut langsung. Rudi menyatakan kondisi itu menunjukkan masih adanya kebutuhan dukungan pendidikan di sejumlah wilayah kepulauan NTT yang aksesnya terbatas.
Dalam kunjungan tersebut, Kapolda juga meresmikan dua ruang kelas hasil revitalisasi yang dikerjakan Direktorat Polairud Polda NTT sebelumnya. Dua ruang itu kini melengkapi fasilitas pembelajaran yang tersedia, meski dua ruangan lainnya masih membutuhkan perbaikan lebih lanjut.
Setelah revitalisasi, proses belajar mengajar dapat dibagi ke empat ruang sehingga siswa tidak lagi belajar seluruhnya di luar. Perubahan tersebut memberi ruang pembelajaran lebih nyaman bagi siswa yang sebelumnya harus menyesuaikan diri dengan keterbatasan kelas tersedia.
Selain fasilitas sekolah, kunjungan Kapolda NTT juga membawa bantuan untuk warga yang terdampak gempa bumi Flores di Kukusan. Bantuan itu diserahkan kepada masyarakat dan tenaga pendidik dalam bentuk kebutuhan pokok serta perlengkapan yang diperlukan untuk sehari-hari.
Paket bantuan yang dibawa rombongan antara lain sembako, susu, mainan anak, serta perlengkapan sekolah bagi penerima di lokasi. Penyaluran dilakukan bersamaan dengan kegiatan kunjungan sekolah dan dialog bersama warga mengenai kebutuhan pascagempa mereka saat itu berlangsung.
Kegiatan kemanusiaan juga menyasar kondisi psikologis anak melalui trauma healing yang digelar di lingkungan MI Al-Hidayah tersebut. Anak-anak diajak bermain, menggambar, menulis, dan berbincang mengenai cita-cita dalam suasana yang dibuat lebih rileks bersama para pendamping.
Kegiatan itu melibatkan personel kepolisian dan tim psikologi untuk membantu anak mengurangi ketakutan setelah mengalami gempa di wilayah. Kapolda berinteraksi langsung dengan siswa, termasuk mendengarkan cerita dan melihat hasil gambar yang mereka buat selama kegiatan berlangsung.
Sejumlah anak menyampaikan cita-cita mereka, termasuk keinginan menjadi polisi karena ingin membantu dan menolong orang lain di masa depan. Rudi menilai anak-anak Pulau Kukusan memiliki potensi yang sama apabila memperoleh pendidikan layak dan dukungan secara berkelanjutan.
Menurut Rudi, pemulihan pascagempa tidak hanya menyangkut bangunan, tetapi juga kondisi psikologis masyarakat terutama anak-anak yang terdampak langsung. Ia berharap pendampingan tersebut membantu anak kembali beraktivitas normal dan melanjutkan sekolah tanpa terus dibayangi rasa takut berlebihan.
Kunjungan itu juga memperlihatkan akses menuju Pulau Kukusan menjadi faktor penting dalam distribusi bantuan dan pelayanan kepada warga. Pulau tersebut berada di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, dan dijangkau melalui perjalanan laut setempat.
Rombongan Kapolda datang bersama sejumlah pejabat utama Polda NTT dan Kapolres Manggarai Barat dalam kunjungan tersebut pada Selasa. Kehadiran mereka menggabungkan peresmian fasilitas pendidikan, penyaluran bantuan, dan pendampingan psikologis bagi anak-anak terdampak gempa di Pulau Kukusan.
Selain bantuan pendidikan, Polda NTT menyiapkan perhatian lanjutan terhadap kebutuhan warga melalui pelayanan kemanusiaan lainnya di wilayah tersebut. Langkah lanjutan itu penting karena pemulihan pascagempa berlangsung bertahap dan membutuhkan dukungan lintas sektor secara konsisten di lapangan.
Bagi sekolah, ruang kelas yang bertambah menjadi perubahan nyata setelah bertahun-tahun menghadapi keterbatasan fasilitas belajar di pulau tersebut. Bagi siswa, perubahan itu berarti kegiatan belajar kini berlangsung lebih tertata tanpa harus bergantung pada ruang terbuka saja.
Meski demikian, sekolah masih menghadapi persoalan tenaga pendidik dan kualifikasi akademik yang perlu mendapat perhatian secara khusus. Dua ruang kelas lainnya juga masih membutuhkan perbaikan setelah mengalami kerusakan pada bagian tertentu akibat gempa terakhir ini.
Peresmian revitalisasi dan bantuan pascagempa menjadi dua agenda utama Kapolda NTT selama berada di Pulau Kukusan pada Selasa. Kegiatan tersebut mempertemukan kebutuhan pendidikan dan pemulihan bencana dalam satu kunjungan yang menyasar warga secara langsung di lapangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....