Uskup Ruteng Soroti Judol, Pinjol dan Fenomena Viral dalam Pesan Paskah

  • 06 Apr 2026 22:30 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai – Homili Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, Pr., saat memimpin Misa ketiga Perayaan Hari Raya Paskah di Gereja Katedral Ruteng, Minggu 5 April 2026, sarat dengan pesan reflektif sekaligus kritik sosial.

Misa yang berlangsung khidmat tersebut tetap diikuti ratusan umat dengan penuh antusias, meskipun misa ketiga dalam rangkaian perayaan Hari Raya Kebangkitan Tuhan Yesus.

Sejumlah umat mengaku terkesan dengan homili yang disampaikan. Kepada RRI, salah seorang umat, Hendrik, menilai pesan yang disampaikan Uskup sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama di tengah derasnya arus penggunaan media sosial.

Hal serupa juga disampaikan Maria yang menilai homili tersebut memberikan edukasi penting, khususnya bagi generasi muda yang kini semakin terjebak dalam dinamika media sosial, seperti mengejar popularitas, konten, hingga monetisasi, yang berpotensi mengabaikan nilai privasi dan esensi kehidupan.

Sementara itu, dalam homilinya, Uskup Mgr. Sipri menegaskan bahwa peristiwa kebangkitan Kristus merupakan kabar iman yang sangat besar, bahkan melampaui jangkauan akal manusia. Secara logika, menurutnya, manusia sulit menerima kenyataan bahwa Yesus yang wafat di kayu salib dan dimakamkan dapat bangkit dan hidup kembali.

Namun demikian, Uskup menekankan Yesus yang bangkit bukanlah sekadar bayangan atau khayalan. Kehadiran-Nya nyata dan dapat dikenali, justru melalui tanda-tanda sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Uskup menegaskan peristiwa Paskah tidak lahir dari hal-hal yang spektakuler, melainkan dari kesaksian yang jujur dan sederhana.

Ia menjelaskan, para perempuan dan murid Yesus mulai mengenali kebangkitan melalui hal-hal kecil, seperti batu yang telah terguling, kubur yang kosong, kain kafan yang tertinggal, serta kain penutup yang tergulung rapi di sudut makam. "Dari tanda-tanda sederhana itulah iman para murid mulai tumbuh dan menyala," ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi refleksi bagi kehidupan manusia saat ini yang cenderung tidak sabar menjalani proses dan lebih menginginkan hasil instan. Ia menilai, kecenderungan tersebut membuat banyak orang terjebak dalam berbagai persoalan, seperti pinjaman online maupun judi online, demi memperoleh keuntungan secara cepat.

Dalam homilinya tersebut, Uskup juga mengajak umat untuk sejenak merenungkan kata “viral". Ia menyebut zaman sekarang sebagai era post-truth, di mana kebenaran tidak lagi semata ditentukan oleh fakta, melainkan oleh seberapa banyak orang yang mempercayai dan menyebarkannya.

Dalam situasi tersebut, benar atau salah sering kali ditentukan oleh siapa yang paling ramai, paling kompak, dan paling viral di ruang publik, termasuk di media sosial seperti Facebook, TikTok, dan Instagram. "Karakter orang dibunuh bukan dengan pisau tetapi dengan jari dan layar," ungkapnya.

Akibatnya, sesuatu yang belum tentu benar dapat dengan mudah dianggap sebagai kebenaran hanya karena banyaknya dukungan. "Benar atau salah yang menentukan ditentukan oleh siapa yang paling ramai, siapa yang paling kompak, dan siapa yang paling viral," kata Uskup.

Uskup mengaitkan fenomena ini dengan peristiwa penyaliban Yesus, yang terjadi bukan karena bukti kesalahan, melainkan karena tekanan massa yang bersuara serempak. Menurutnya, situasi serupa dapat terjadi kembali di era digital, di mana karakter seseorang dapat “dibunuh” bukan dengan senjata, tetapi melalui jari dan layar.

Diakhir homilinya, Uskup menegaskan bahwa pesan Paskah justru hadir dalam hal-hal kecil dan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. "Pesan paskah mulai dari tetangga yang masih mau membantu tetangganya, inilah jalan-jalan kecil itu, dari ibu yang sabar merawat keluarganya, dari ayah yang tetap pulang dengan tanggung jawab di dadanya, dari jari yang berhenti sebelum menekan tombol kebencian," ucap Uskup Sipri.

Menurutnya, melalui tindakan-tindakan sederhana tersebut, tanda-tanda kebangkitan Kristus tetap hidup dan nyata. Karena itu, umat diajak untuk kembali pada nilai-nilai dasar kehidupan, seperti menghormati orang tua, menjaga kesetiaan dalam keluarga, bekerja dengan jujur, serta menghindari jalan pintas dan tetap menumbuhkan semangat untuk menolong sesama tanpa pamrih.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....