Warga Korban Gempa di Desa Tondong Belang, Manggarai Barat Bangun Rumah Darurat Man

  • 18 Sep 2026 21:26 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Hampir sebulan setelah gempa bumi mengguncang wilayah Manggarai Barat, warga terdampak di Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeliling masih bertahan di tempat pengungsian. Kondisi tersebut membuat sebagian warga memilih membangun rumah darurat secara mandiri sebagai tempat tinggal sementara.

Salah satunya Hironimus Suasa (56), warga terdampak gempa yang hingga kini masih tidur di posko berbahan terpal. Ia mengatakan, rumahnya mengalami kerusakan sehingga belum berani kembali menempatinya.

“Sudah hampir satu bulan saya tidur di posko. Poskonya dibuat dari terpal, bantuan dari perorangan maupun pemerintah. Sampai saat ini saya masih tidur di tempat itu,” ujar Hironimus saat ditemui di rumahnya, Jumat 18 September 2026 pagi.

Selain persoalan tempat tinggal, Hironimus mengaku mulai mengalami gangguan kesehatan setelah cukup lama tidur di tempat yang dingin. Ia merasakan sakit pada bagian tubuh dan punggung hingga kemudian memeriksakan diri kepada tenaga medis.

“Setelah saya cek ke dokter, katanya mungkin karena pernah tidur di tempat dingin. Saya memang korban gempa, jadi badan dan punggung terasa sakit. Katanya itu masuk angin,” ungkapnya.

Guna mengantisipasi kondisi tersebut sekaligus menghadapi musim hujan, Hironimus kini membangun rumah darurat dari kayu. Pembangunan dilakukan secara mandiri dengan memanfaatkan bantuan yang diterimanya.

Ia memperkirakan rumah darurat tersebut dapat diselesaikan dalam waktu sekitar lima hingga tujuh hari. Rumah itu nantinya akan ditempati bersama istrinya.

“Terpaksa saya harus membangun rumah karena musim hujan sudah dekat. Kalau menunggu bantuan, saya tidak tahu sampai kapan. Rumah kayu ini lebih nyaman dan aman dibandingkan tempat saya tinggal sekarang,” ujarnya.

Hal serupa dilakukan Veronika bersama suaminya. Rumah mereka juga mengalami kerusakan akibat gempa sehingga keduanya memilih membangun hunian sederhana di sekitar rumah yang terdampak.

Veronika mengatakan, rumah darurat tersebut dibangun menggunakan bahan yang mereka siapkan sendiri, di antaranya kayu dan seng. Pembangunan ditargetkan selesai dalam waktu sekitar satu minggu.

“Karena kami tinggal di rumah, maka kami buat rumah sederhana saja,” kata Veronika.

Rumah darurat itu nantinya menjadi tempat tinggal sementara bagi Veronika dan suaminya, sembari menunggu kondisi rumah utama dan bantuan pemulihan pascagempa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....