Kemenkes Kirim 160 TCK Perkuat Pemulihan Kesehatan Flores
- 09 Sep 2026 09:19 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Jakarta : Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI kembali mengirimkan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) untuk mendukung pemulihan kesehatan masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 160 tenaga kesehatan TCK Batch 2 diberangkatkan dari Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Senin 7 September 2026.
Mereka akan ditempatkan di empat kabupaten terdampak, yakni Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur. Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI, Sumarjaya, mengatakan penugasan TCK Batch 2 lebih difokuskan pada penguatan layanan psikososial dan kesehatan mental masyarakat pascabencana.
“Pendekatannya agak berbeda karena ini lebih kepada psikososial, bagaimana kita memberangkatkan tenaga-tenaga yang memberikan kesehatan mental bagi masyarakat di daerah Flores,” ujar Sumarjaya dalam rilisnya.
Pengiriman TCK Batch 2 tersebut merupakan kelanjutan dari dukungan Kemenkes pada tahap pertama. Sebelumnya, sebanyak 206 tenaga kesehatan telah diberangkatkan untuk membantu pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa di NTT.
Pada tahap kedua, para tenaga kesehatan akan memberikan pelayanan di sejumlah fasilitas kesehatan, baik puskesmas maupun rumah sakit lapangan. Saat ini terdapat dua rumah sakit lapangan yang mendukung pelayanan masyarakat terdampak, masing-masing berada di Ruteng dan Ngada.
Selain penanganan medis, TCK juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis masyarakat, terutama anak-anak yang mengalami trauma akibat bencana. Sumarjaya menjelaskan, dampak gempa tidak hanya menimbulkan persoalan kesehatan fisik seperti luka dan patah tulang, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat akibat kehilangan harta benda maupun pengalaman menghadapi bencana.
“Untuk saat ini, itu adalah lebih kepada psikososial, bagaimana memberikan edukasi, komunikasi kepada masyarakat terdampak,” katanya.
Dokter umum TCK, dr. Shaldy Syifa Azzahri, mengatakan para tenaga kesehatan telah mempersiapkan peralatan dan bahan kesehatan yang dibutuhkan selama menjalankan tugas. Kesiapan fisik dan mental juga menjadi perhatian sebelum memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Sebagai seorang dokter, kita menyiapkan beberapa alat-alat dan juga bahan yang bisa kita bantu untuk memperbaiki dan juga memulihkan kesehatan masyarakat. Dan pastinya juga sebagai seorang dokter umum, kita juga pastinya bisa mempersiapkan mentalitas kita sendiri dan juga kesehatan kita sendiri sebelum kita membantu orang lain,” kata Shaldy.
Menurutnya, pemulihan pascagempa tidak cukup hanya dengan menangani kondisi fisik korban. Dukungan terhadap kesehatan psikologis masyarakat juga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.
“Ini bukan lagi hanya memperbaiki kesehatan dari fisiknya saja, tapi juga kita harus membantu untuk memulihkan kesehatan psikologisnya juga. Jadi di sini kita membantu sama-sama untuk bisa menjadi bagian dari proses pemulihan mereka,” ujarnya.
Sementara itu, dokter umum TCK asal Padang, dr. Rayhendra Hanif, mengatakan dirinya telah mempersiapkan kondisi mental dan berbagai kebutuhan pribadi, termasuk obat-obatan, sebelum berangkat menjalankan penugasan. Rayhendra mengaku terdorong bergabung sebagai TCK karena memiliki pengalaman menghadapi bencana gempa bumi.
“Saya dulu dari Padang tahun 2009 itu juga sudah pernah gempa. Jadi hati saya juga tergerak untuk pergi ke NTT karena kondisinya mirip, sama-sama gempa,” ujar Rayhendra.
Dalam pelaksanaannya, penugasan TCK mengikuti standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dengan masa tugas selama 14 hari sebelum dilakukan pergantian personel. Penempatan tenaga kesehatan juga disesuaikan dengan masa tanggap darurat yang ditetapkan Pemerintah Provinsi NTT hingga 12 September 2026 dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan di lapangan.
Selain memberikan dukungan psikososial, TCK juga membantu perawatan pasien pascaoperasi. Sebelumnya, Kemenkes telah mengerahkan sejumlah dokter spesialis, termasuk spesialis ortopedi dan bedah, untuk menangani pasien yang membutuhkan tindakan operasi.
Kemenkes juga memperkuat surveilans kesehatan di wilayah terdampak guna memantau dan mengidentifikasi potensi penyakit menular. Langkah ini dilakukan untuk mencegah munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) maupun wabah pascabencana.
“Tim kita surveillance juga kita turunkan untuk melihat, mengidentifikasi penyakit-penyakit apa yang terjadi di sana supaya tidak terjadi potensi KLB dan wabah,” ucap Sumarjaya.
Kemenkes memastikan dukungan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa di NTT terus berjalan. Dukungan tersebut mencakup pemulihan kesehatan fisik, penanganan pasien, penguatan surveilans, hingga pemulihan kondisi psikologis masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....