Dokter Puskesmas Dampek Minta Tambahan Tenaga Medis
- 18 Agt 2026 07:42 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Timur - Keterbatasan tenaga medis menjadi salah satu tantangan dalam penanganan korban gempa di wilayah pelayanan Puskesmas Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dokter Umum Puskesmas Dampek, Melinda Bella (28), mengatakan dirinya menjadi satu-satunya dokter yang menangani ratusan pasien setelah gempa, sementara sejumlah tenaga kesehatan lainnya juga ikut terdampak bersama keluarga.
Melinda saat ini berada di Posko Kampung Damer, Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur. Ia mengatakan, saat gempa terjadi, dirinya bersama warga menyelamatkan diri ke wilayah yang lebih tinggi setelah adanya peringatan tsunami.
Dalam kondisi tersebut, dr. Melinda hanya membawa stetoskop. Sementara obat-obatan dan peralatan medis tidak sempat dibawa ke lokasi pengungsian.
“Waktu di gunung kami semua hanya membawa diri. Saya hanya berlarian dengan stetoskop saya,” ujar Melinda, saat ditemui RRI di Posko, Senin 17 Agustus 2026.
Setelah peringatan tsunami dicabut, pelayanan kesehatan kemudian dilakukan di posko darurat yang dibangun secara sederhana. Pasien berdatangan dari berbagai wilayah dengan kondisi luka yang beragam, termasuk patah tulang, luka terbuka, hingga gangguan pernapasan.
Adapun dr. Melinda memperkirakan lebih dari 200 pasien berada di lokasi tersebut. Namun, penanganan tidak dapat dilakukan secara maksimal karena persediaan obat terbatas dan fasilitas Puskesmas Dampek mengalami kerusakan akibat gempa.
“Kami hanya saya, dokter satu-satunya, menangani begitu banyak pasien sekitar ratusan sendiri, dibantu dengan nakes yang apa adanya, dengan keterbatasan obat-obatan,” katanya.
Menurutnya, kebutuhan tenaga medis di wilayah tersebut sebenarnya sudah menjadi persoalan sebelum gempa. Wilayah pelayanan Puskesmas Dampek mencakup sekitar 17 ribu penduduk yang tersebar di delapan desa, sementara hanya ada satu dokter.
Ia mengaku telah menangani pelayanan kesehatan masyarakat hampir sepanjang waktu karena jumlah penduduk yang harus dilayani cukup besar.
“Saya tidak mampu untuk menangani 17 ribu. Misalnya sebelum gempa, saya selalu menangani pasien di sini 17 ribu penduduk, dan itu terlalu banyak. Hari-harinya saya selalu 24 jam,” ucapnya.
Kondisi tersebut diperparah dengan keterbatasan akses rujukan. Pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut harus menempuh perjalanan sekitar lima hingga enam jam menuju rumah sakit kabupaten.
Selain itu, dr. Melinda berharap pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan, dapat menambah dokter maupun tenaga kesehatan di wilayah tersebut. Menurutnya, tambahan tenaga medis sangat dibutuhkan untuk memastikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat tetap berjalan, terutama di wilayah dengan akses rujukan yang sulit.
“Setidaknya dari Kemenkes bisa memberikan dokter lagi untuk di bagian sini, untuk tenaga Nusantara Sehat atau apa pun itu. Karena memang puskesmas ini sangat membutuhkan dokter,” ungkapnya.
Ia menyebut, berdasarkan informasi dari dokter sebelumnya, wilayah tersebut pernah mengalami kekosongan dokter selama sekitar delapan tahun. Setelah itu, baru ada dokter melalui program Nusantara Sehat sebelum dirinya ditugaskan di Puskesmas Dampek.
“Jadi sangat dibutuhkan tenaga dokter di sini,” kata dr. Melinda.
Selain tambahan tenaga medis, Melinda berharap dukungan pascabencana juga mencakup obat-obatan, kebutuhan dasar pasien, serta pendampingan psikologis bagi korban. Menurutnya, banyak pasien, termasuk anak-anak, mengalami trauma setelah gempa.
“Kalau bisa ada tim sukarelawan yang membantu menangani psikologis pasien anak maupun pasien dewasa, karena banyak sekali pasien di sini yang trauma psikologisnya,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....