Siswa Belajar di Bawah Pohon Viral, SDN Tando Segera Direhabilitasi Total
- 24 Apr 2026 10:58 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Kondisi memprihatinkan yang dialami siswa di SDN Tando, Desa Golo Lajang, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang sempat viral karena kegiatan belajar mengajar dilakukan di bawah pohon, kini mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. Sekolah tersebut direncanakan akan segera menjalani rehabilitasi total.
Kepala SDN Tando, Fransiskus Jenala, mengatakan sejak viral di media sosial, sejumlah pihak mulai dari pemerintah daerah hingga pusat telah turun langsung meninjau kondisi sekolah.
“Setelah viral kemarin, sudah ada tanggapan dari dinas kabupaten, provinsi, dan pusat. Kepala Dinas PKO Manggarai Barat datang, kemudian disusul pihak kementerian dan Staf Kepresidenan,” ujarnya kepada RRI RRI, Jumat 24 April 2026.
Ia juga menjelaskan, rencana awal pembangunan oleh pemerintah daerah berupa empat ruang kelas baru dan satu unit toilet, akhirnya dialihkan ke pemerintah pusat untuk menghindari tumpang tindih anggaran. Pemerintah pusat, melalui Staf Kepresidenan, berkomitmen melakukan pembangunan secara menyeluruh.
“Rencananya akan dibangun total, mulai dari ruang kelas hingga akses jalan masuk dan penyediaan air bersih. Saat ini material seperti pasir dan batu juga sudah mulai masuk ke lokasi,” katanya.
Fransiskus menambahkan, berdasarkan informasi awal yang diterima dari pemerintah pusat, pembangunan fisik gedung sekolah direncanakan mulai dikerjakan pada awal Mei 2026.
“Iya, Bu, ada dari pusat untuk mulai pembangunan gedungnya. Sekarang di lokasi sudah ada pasir dan batu. Informasi awal, mereka rencanakan mulai awal Mei 2026,” ujarnya.
Keterbatasan ruang belajar di SDN Tando selama ini menjadi persoalan utama. Sekolah tersebut hanya memiliki dua ruang kelas yang layak, sementara jumlah siswa mencapai 76 orang. Kondisi ini memaksa pihak sekolah mengatur pembagian ruang secara terbatas.
Ruang kelas yang ada disekat untuk menampung siswa kelas 1, 4, dan 5. Sementara siswa kelas 6 menempati ruang guru dan ruang kepala sekolah yang juga disekat. Adapun siswa kelas 3 terpaksa belajar di bawah pohon saat cuaca memungkinkan.
“Bukan karena ruangannya penuh, tetapi memang tidak ada ruang kelas. Kami ajak belajar di bawah pohon supaya anak-anak tetap bisa belajar dengan nyaman saat cuaca cerah,” kata Fransiskus.
Ia berharap pembangunan dapat segera terealisasi sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung secara normal dan layak. Menurutnya, fasilitas pendidikan yang memadai sangat dibutuhkan, mengingat sebagian besar orang tua siswa berprofesi sebagai petani.
“Harapan kami pembangunan ini bisa cepat selesai agar menunjang kegiatan belajar mengajar. Kami ingin anak-anak belajar dengan aman dan nyaman,” ujarnya.
Diketahui saat ini, SDN Tando didukung oleh delapan tenaga pengajar, terdiri dari satu kepala sekolah berstatus PNS, tiga guru ASN PPPK, tiga ASN paruh waktu, serta satu tenaga honorer.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....