Grooming Digital Picu Risiko Pernikahan Dini Remaja Indonesia

  • 13 Feb 2026 21:30 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Fenomena meningkatnya risiko pernikahan anak di Indonesia tak lepas dari pengaruh akses digital yang semakin terbuka tanpa pengawasan. Manipulasi emosional di ruang maya atau grooming disebut menjadi salah satu pintu masuk yang kerap tidak disadari oleh remaja maupun orang tua.

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, menyoroti kondisi tersebut dan mengingatkan bahwa remaja usia 12 hingga 18 tahun berada pada fase yang sangat rentan. Ketika komunikasi dan pendidikan dalam keluarga tidak berjalan optimal, gawai sering kali menjadi pelarian utama.

“Ada grooming pendekatan yang terlihat baik, penuh pujian, dan perhatian. Hal ini sering kali tidak mereka rasakan di rumah. Itulah yang mereka konsumsi secara emosional melalui gawai tanpa kontrol,” ungkap Veronica usai berkunjung ke Kampus Bambu, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat 13 Februari 2026.

Ia menjelaskan, minimnya pengawasan orang tua terhadap aktivitas digital membuat remaja lebih mudah mencari validasi dari orang asing di internet. Paparan konten yang tidak tersaring, terutama yang menampilkan romantisasi hubungan secara tidak realistis, dinilai dapat membentuk pola pikir yang belum matang.

Lebih lanjut, ia menilai, dalam kondisi tertentu, remaja dapat memandang pernikahan sebagai jalan keluar dari persoalan pribadi atau keluarga.

“Ketika mereka jatuh cinta pada orang yang salah di dunia digital, demi cinta mereka bisa melakukan apa saja. Cinta bagi remaja saat ini bukan membuat kokoh, tetapi justru membuat mereka lari dari kenyataan,” ucapnya.

Dirinya juga mengakui, tantangan mendidik anak di era digital semakin kompleks. Akses informasi yang luas membuat anak lebih berani dan kritis terhadap orang tua. Tanpa pendekatan psikologis yang tepat, jarak komunikasi dalam keluarga bisa semakin melebar.

Sebagai langkah pencegahan, pemerintah mendorong penguatan komunitas dan ruang interaksi sosial yang sehat bagi remaja, seperti kebun dan taman komunitas. Upaya tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada dunia maya sekaligus membangun relasi sosial yang positif di dunia nyata.

Selain itu, dukungan tenaga ahli dan psikolog juga disiapkan untuk membantu proses pendampingan dan pemulihan remaja yang terdampak. Namun, Veronica menegaskan bahwa peran utama tetap berada pada keluarga.

“Ujungnya adalah pembinaan dan mentoring keluarga melalui komunikasi yang sehat. Kita harus membangun generasi yang lebih sehat, kuat, dan terlindungi dari dampak negatif digitalisasi,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....