Perjuangan Cinta, Anak Yatim Piatu Berprestasi di Manggarai Timur

  • 12 Agt 2026 11:58 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Timur – Kisah hidup Marselina Lovelia Kurniati Rindu, yang akrab disapa Cinta, di Kampung Compang, RT 015/RW 007, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, menyimpan cerita tentang keteguhan seorang anak di tengah segala keterbatasan.

Usianya baru 11 tahun. Namun, sejak masih bayi, Cinta harus tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tuanya. Ia kini hanya tinggal bersama neneknya, satu-satunya sosok keluarga yang setia mendampinginya menjalani hari-hari.

Keduanya tinggal di sebuah gubuk sederhana berdinding bambu pelupuh, berlantai tanah, dan beratap seng yang mulai berkarat. Saat hujan turun, atap yang bocor membuat tempat tinggal itu tak lagi sepenuhnya mampu melindungi mereka dari dinginnya air hujan.

Cinta lahir pada 19 September 2015. Saat usianya baru sekitar satu tahun, ibunya meninggal dunia. Sang ayah kemudian pergi meninggalkannya tanpa tanggung jawab. Sejak saat itu, Cinta diasuh oleh kakek dan neneknya, Sebas Tonggo dan Katarina Labe.

Namun, cobaan kembali datang. Pada tahun 2024, sang kakek berpulang. Sejak itu, Cinta hanya memiliki satu sosok pelindung, yakni neneknya, Katarina Labe, yang kini telah lanjut usia.

Keduanya tinggal di rumah sederhana peninggalan almarhum kakek berukuran sekitar 7 x 6 meter. Dinding rumah terbuat dari bambu dan papan yang mulai lapuk serta berlubang, sementara lantainya masih berupa tanah. Atap seng yang telah berkarat, bahkan sebagian masih menggunakan bambu, membuat air hujan kerap masuk ke dalam rumah saat musim penghujan tiba.

Saat menempuh pendidikan di SDI Compang Ngeles, ia selalu berhasil meraih peringkat pertama. Kini, Cinta telah duduk di kelas I SMP Negeri 1 Elar. Setiap pagi, Cinta berjalan kaki menempuh jarak yang cukup jauh menuju sekolah. Begitu pula saat pulang.

Ia berangkat dengan pakaian seadanya, mengenakan sandal yang sudah tidak layak, serta membawa tas lusuh berisi buku-buku pelajaran.

“Cinta anak yang sangat rajin, sopan, dan selalu aktif di sekolah. Meski kurang mampu, ia tidak pernah absen berprestasi,” ujar salah satu mantan gurunya.

Di tengah keterbatasan itu, Nenek Katarina menjadi satu-satunya sandaran hidup Cinta. Perempuan lanjut usia tersebut tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk makan, pakaian, dan biaya sekolah cucunya, ia bekerja serabutan di ladang dengan penghasilan yang tidak menentu.

Ada kalanya, keduanya harus menunggu bantuan dari keluarga, kerabat, maupun warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Bantuan yang diterima pun harus digunakan sehemat mungkin agar dapat mencukupi kebutuhan mereka.

“Sebagai kepala keluarga, saya harus menanggung segalanya. Makan, kebutuhan sekolah Cinta, buku, dan seragam. Namun apa daya, penghasilan serabutan tidak cukup untuk kami berdua,” ujar Nenek Katarina dengan mata berkaca-kaca.

Ia mengungkapkan, keluarganya telah terdaftar dalam Program Keluarga Harapan (PKH), sementara Cinta menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP). Namun, bantuan tersebut belum mampu mencukupi seluruh kebutuhan hidup dan pendidikan Cinta.

“Rumah kami juga bocor di mana-mana. Saat hujan, kami kedinginan dan basah. Kami hidup sangat sederhana, bahkan sulit dikatakan layak,” tambahnya sambil menahan tangis.

Sementara itu, anak laki-laki Nenek Katarina yang merupakan paman kandung Cinta masih berada di perantauan. Di usia yang masih sangat muda, Cinta belum pernah merasakan hangatnya kasih sayang kedua orang tua.

Namun, keadaan tersebut tidak membuatnya menyerah. Sepulang sekolah, ia membantu neneknya mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Di tengah sepatu yang mulai rusak, pakaian yang lusuh, dan perjalanan kaki yang harus ditempuh setiap hari, Cinta tetap menyimpan cita-cita.

“Saya ingin tetap bersekolah dan kelak menjadi orang yang sukses. Saya ingin membalas kasih sayang Nenek,” tutur Cinta.

Kini, Cinta dan Nenek Katarina hanya memiliki harapan sederhana. Mereka berharap ada tangan-tangan baik yang bersedia membantu meringankan kebutuhan hidup, pendidikan Cinta, serta memperbaiki rumah mereka agar menjadi tempat tinggal yang lebih layak dan aman.

Bagi masyarakat yang ingin membantu, bantuan dapat disalurkan melalui:

Bank BRI

Nomor Rekening: 764401019860529

Atas Nama: Katarina Labe

Kontak:

081345134110

081239389828

Bagi para pembaca yang berkenan berbagi, setiap bantuan yang diberikan akan sangat berarti bagi Cinta dan Nenek Katarina. Dukungan tersebut bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga menjadi bagian dari harapan agar Cinta dapat terus bersekolah dan meraih masa depan yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....