Seni Mengajak Anak Muda Kembali Menyentuh Buku
- 23 Feb 2026 22:53 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Di tengah derasnya notifikasi dan guliran layar tanpa henti, buku perlahan tersisih dari tangan anak muda. Gawai menjadi teman paling setia, sementara halaman-halaman kertas semakin jarang disentuh.
Keprihatinan itulah yang mengemuka dalam program “Komunitas Bicara – Seni Mengajak Anak Muda Kembali Menyentuh Buku” yang disiarkan RRI Labuan Bajo. Dalam diskusi tersebut, Irkawati, seorang penggerak literasi, membagikan cerita tentang perjuangan kecil yang ia mulai dari komunitas baca.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar rendahnya minat baca, tetapi cara pandang yang keliru terhadap aktivitas membaca itu sendiri.
“Membaca sering dianggap membosankan atau hanya untuk ‘kutu buku’. Padahal membaca bisa menjadi ruang pertemuan ide, tempat bertumbuh,” ujarnya.
Irkawati menyadari bahwa pendekatan lama tidak lagi efektif untuk generasi Z dan milenial. Anak muda tidak cukup diajak membaca hanya dengan imbauan moral atau kewajiban akademik. Membaca harus terasa dekat, relevan, dan—dalam bahasanya—terlihat keren.
Di sinilah seni itu dimainkan.
Kegiatan membaca dikemas dalam suasana santai, di ruang-ruang terbuka seperti taman atau pantai. Buku dibuka bukan di ruang kelas formal, tetapi di bawah langit yang luas dan angin laut yang sejuk. Aktivitas tersebut kemudian didokumentasikan dan dibagikan melalui Instagram dan TikTok.
“Kami tidak melawan gadget. Kami justru memanfaatkannya untuk menyebarkan semangat membaca,” katanya.
Konten visual yang estetik menjadi jembatan agar membaca tidak lagi terlihat kuno. Anak muda diajak melihat bahwa buku bisa sejalan dengan gaya hidup mereka.
Tak hanya pendekatan visual, pemilihan bacaan juga menjadi kunci. Komunitas menyediakan buku-buku yang relevan dengan kebutuhan anak muda, seperti novel pengembangan diri dan fiksi populer. Buku-buku berat tidak dihilangkan, tetapi disandingkan agar pilihan tetap terbuka.
Namun menggerakkan komunitas bukan perkara mudah.
Menjaga konsistensi anggota untuk terus hadir menjadi tantangan tersendiri. Keterbatasan akses buku berkualitas di daerah juga menjadi hambatan. Di sisi lain, stigma bahwa membaca membosankan masih melekat.
Meski demikian, perubahan kecil mulai terlihat.
Irkawati menyebut anak-anak muda yang sebelumnya pasif kini mulai berani berdiskusi. Mereka berbagi isi buku yang dibaca, menyampaikan opini, bahkan mengaitkannya dengan persoalan sehari-hari.
“Itu yang paling membahagiakan. Mereka mulai percaya diri menyampaikan pikiran,” katanya.
| Baca juga: Cara Sederhana Melawan Grogi saat Tampil |
Baginya, literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks, tetapi kemampuan memahami, mengolah, dan menyuarakan gagasan.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak—orang tua, sekolah, komunitas, hingga pemerintah—untuk membangun ekosistem literasi yang sehat. Gerakan membaca tidak bisa berdiri sendiri.
Di akhir diskusi, Irkawati menyampaikan pesan sederhana kepada anak muda: mulailah dari buku yang kamu sukai.
“Membaca jangan dijadikan beban. Jadikan ia bagian dari gaya hidup,” ujarnya.
Di Labuan Bajo, sebuah komunitas kecil terus berupaya membalik keadaan. Di antara riuh dunia digital, mereka menciptakan ruang sunyi untuk kembali membuka halaman demi halaman.
Barangkali, perubahan besar memang selalu dimulai dari langkah kecil—dan satu buku yang kembali disentuh.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....