Antara Doa dan Keterbatasan, LPK Samaria Pulihkan ODGJ
- 28 Apr 2026 14:06 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Pagi di sebuah rumah sederhana di Ende dimulai dengan rutinitas yang pelan namun penuh makna. Satu per satu penghuni dibangunkan, diajak mandi, mengenakan pakaian bersih, lalu duduk bersama dalam doa. Di tempat itu, mereka bukan lagi “orang terlantar”, melainkan manusia yang sedang belajar pulang pada dirinya sendiri.
Rumah itu adalah LPK Samaria. Sejak 2017, Mama Katarina Deno—yang akrab disapa Mama Nina—menjadikannya ruang aman bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang sebelumnya hidup di jalanan. Bagi Mama Nina, ini bukan sekadar pekerjaan sosial, tetapi panggilan hati.
“Tujuan kami memanusiakan mereka, supaya kembali jadi manusia seutuhnya,” ujarnya dalam Podcast RRI Ende.
Perjalanan itu bermula dari kegelisahan. Ia tak sanggup melihat perempuan-perempuan ODGJ berkeliaran tanpa pakaian layak, tanpa makanan, tanpa perlindungan. Dari rasa itu, ia mulai mendekati, menjemput, dan merawat—meski seringkali harus menghadapi penolakan bahkan agresivitas.
| Baca juga: Rabu Abu Awali Masa Prapaskah Umat Katolik |
Di LPK Samaria, pemulihan tidak dimulai dari obat, tetapi dari hal sederhana: sentuhan, sapaan, dan kesabaran. Bersama Mama Rovina atau Mama Nining, pendekatan yang mereka jalankan dikenal sebagai “terapi kasih”.
Setiap hari dimulai pukul 06.00 WITA. Para penghuni diajak merawat diri, lalu mengikuti pembinaan rohani. Tidak ada sekat agama. Yang Muslim tetap salat, yang Kristen berdoa, semuanya diberi ruang untuk menemukan ketenangan.
“Kalau didekati dengan kasih, mereka pelan-pelan berubah,” kata Mama Nining.
Perubahan itu nyata, meski tidak instan. Ada yang awalnya gelisah dan sulit tidur, lalu menjadi tenang setelah diajak membaca kitab suci. Ada pula yang dulunya mengamuk di jalanan, kini mampu menjahit, memasak, bahkan kembali ke keluarga.
Bagi Mama Nina, itulah keberhasilan terbesar.
“Saya bahagia sekali lihat mereka bisa ibadah, bisa kerja lagi,” ujarnya.
Namun di balik harapan itu, ada kenyataan yang tak mudah. LPK Samaria masih bertahan di gedung pinjaman—sebuah gudang yang direnovasi seadanya. Fasilitas terbatas membuat mereka belum mampu menampung semua ODGJ, terutama laki-laki.
Jumlah tenaga pun minim. Dari sepuluh relawan, kini hanya tersisa tiga orang yang setia bertahan. Sementara kebutuhan terus meningkat, termasuk logistik harian yang bergantung pada donasi.
Di tengah keterbatasan itu, Mama Nina menyimpan satu mimpi sederhana: sebuah panti yang layak.
“Saya ingin ada tempat yang bagus, supaya mereka tidak lagi di jalan,” katanya.
Ia percaya, penanganan ODGJ tidak bisa hanya diserahkan pada komunitas. Perlu kehadiran negara, kebijakan yang berpihak, dan kepedulian masyarakat yang lebih luas.
Kini, di usianya yang 65 tahun, Mama Nina masih berdiri di garis depan. Ia belum ingin berhenti.
“Saya berdoa, sebelum saya dipanggil, sudah ada panti yang layak dan ada yang melanjutkan,” ucapnya pelan.
Di rumah sederhana itu, kasih menjadi bahasa yang paling dipahami. Dari tangan-tangan yang tak lelah merawat, harapan terus dijaga—meski perlahan, meski dalam sunyi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....