Di tengah Laut, Bidan Muda Asal Maumere Bantu Persalinan Darurat Penumpang Kapal
- 27 Mei 2026 10:19 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Seorang bidan muda asal Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Theresa Arias Viviyanti, berhasil membantu proses persalinan darurat seorang penumpang ibu hamil di atas kapal KM Dharma Rucitra VII dalam perjalanan dari Surabaya menuju Maumere.
Peristiwa menegangkan itu terjadi pada 17 Mei 2026 saat Theresa sedang dalam perjalanan pulang usai mengikuti sumpah profesi bidan di Kediri, Jawa Timur.
Theresa mengaku awalnya tidak mengetahui adanya kondisi darurat di kapal karena sedang beristirahat di kamar penumpang. Ia baru mengetahui kejadian tersebut setelah seorang sopir ekspedisi menyadari dirinya merupakan seorang bidan.
“Saya kira mereka hanya cerita-cerita biasa. Ternyata ada ibu yang mau melahirkan di ruang medis kapal dan dari tadi orang cari bidan,” ujar Theresa, saat di konfirmasi RRI, Sabtu 23 Mei 2026.
Ia kemudian langsung menuju ruang medis kapal dan mendapati seorang ibu berusia 23 tahun asal Pagal, Kabupaten Manggarai, dalam kondisi kontraksi hebat.
Menurut Theresa, ibu tersebut melakukan perjalanan seorang diri dari Solo menuju Maumere menggunakan kapal ekspedisi karena tidak diperbolehkan menggunakan transportasi umum akibat kondisi kehamilannya yang sudah tua.
“Ibunya sudah kontraksi terus-menerus dan tensinya mencapai 160. Itu sangat berisiko karena bisa menyebabkan kejang, pendarahan, bahkan membahayakan nyawa ibu dan bayi,” katanya.
Dengan fasilitas medis yang terbatas di atas kapal, Theresa bersama perawat kapal berupaya menangani persalinan darurat tersebut. Ia mengaku sempat khawatir karena ibu hamil tersebut belum pernah melakukan pemeriksaan kehamilan selama masa kandungan.
Proses persalinan berlangsung dramatis karena pasien kehabisan tenaga akibat salah mengejan sejak awal pembukaan. Theresa pun harus terus membimbing dan menenangkan pasien hingga bayi berhasil dilahirkan.
“Saat lahir, bayinya sempat tidak langsung menangis dan tubuhnya agak kebiruan. Saya terus stimulasi sambil berdoa, akhirnya bayinya menangis kencang,” ungkapnya.
Setelah bayi lahir, tantangan belum selesai. Theresa menjelaskan proses pengeluaran plasenta sempat mengalami hambatan dan berisiko menyebabkan pendarahan hebat.
Beruntung, di ruang medis kapal tersedia obat oxytocin untuk membantu kontraksi rahim. Setelah dua kali penyuntikan dan penanganan hati-hati, plasenta akhirnya berhasil dikeluarkan dengan selamat.
“Kalau plasenta tertinggal di dalam, risikonya sangat besar karena kami berada di tengah laut dengan alat yang sangat terbatas,” kata Theresa.
Theresa juga mengungkapkan ibu tersebut mengalami robekan jalan lahir cukup besar akibat mengejan terlalu dini. Namun kondisi berhasil dikendalikan karena tidak terjadi pendarahan aktif.
Meski perlengkapan medis di kapal terbatas, seperti kasa steril dan alat jahit, Theresa dan perawat kapal tetap berupaya memberikan penanganan terbaik hingga kondisi ibu dan bayi stabil.
“Puji Tuhan semuanya selamat. Setelah dua jam observasi, tensinya turun menjadi 140 dan ibu sudah bisa menyusui bayinya,” ungkapnya.
Selain itu, dirinya menilai keberhasilan proses persalinan darurat tersebut tidak lepas dari kerja sama kru kapal, tenaga kesehatan kapal, serta fasilitas medis dasar yang tersedia meski dalam keterbatasan.
Di tengah perjalanan pulang usai mengucap sumpah profesi, bidan muda asal Maumere itu justru dipertemukan dengan ujian pertamanya sebagai tenaga kesehatan. Tangis bayi yang pecah di ruang medis saat itu menjadi jawaban atas kepanikan, doa, dan perjuangan panjang di tengah lautan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....