Lima Tahun Mama Susana di Manggarai Timur Menanti Kursi Roda
- 12 Apr 2026 10:45 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Timur – Lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk hidup dalam "penjara" fisik akibat stroke. Itulah realita pahit yang harus didekap erat oleh Mama Susana Sau (69), seorang janda lansia di Desa Mokel, Manggarai Timur.
Bukan hanya fisiknya yang terkurung. Mama Susana juga kehilangan banyak hal yang dulu sederhana, namun kini terasa begitu berharga, melihat hamparan sawah, merasakan angin sore, atau sekadar menyapa orang yang melintas di depan rumahnya.
Di tengah keterbatasan fasilitas medis di pelosok, ia berjuang melawan kelumpuhan yang merenggutnya. Bagi warga RT 01/RW 02 ini, jarak antara tempat tidur dan teras rumah kini terasa bak bentangan kiloan meter yang mustahil ditempuh.
Semenjak serangan stroke menghantam tubuhnya setengah dekade silam, baginya, dunia kini hanya sebatas langit-langit kamar dan suara riuh aktivitas warga di luar dinding rumah yang tak lagi bisa ia nikmati. Mimpi sederhana di sisa usianya yang kini memasuki usia senja, bukan kemewahan yang ia pinta di hari tuanya.
Mama Susana hanya memiliki satu kerinduan yang terus ia litanikan dalam doa: Sebuah kursi roda. “Kaki dan tangannya sering tidak patuh. Ia ingin sekali bisa duduk di teras rumah atau sekadar beribadah dengan lebih mudah, tapi tanpa alat bantu, itu sulit sekali,” ujar putri tunggalnya lirih, yang setia merawat dan mendampingi setiap hari.
Bagi Mama Susana, kursi roda bukan sekadar alat bantu medis. Benda itu adalah "kaki" yang akan membebaskannya dari belenggu tempat tidur, memungkinkannya menghirup udara segar di teras rumah, serta memudahkannya untuk beribadah.
Sejak ditinggal wafat suaminya belasan tahun silam, Mama Susana menjalani hari-hari hanya bersama putri tunggalnya, dalam balutan keterbatasan ekonomi. Kondisi kelumpuhan yang dialaminya bukan hanya membatasi gerak, tetapi juga menambah beratnya upaya untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Keterbatasan ekonomi membuat kebutuhan pokok, termasuk sembako dan asupan bergizi yang penting bagi pemulihan saraf pascastroke, kerap tak terpenuhi. Dalam situasi itu, harapan pun sering kali bertumpu pada kepedulian warga sekitar yang dengan tulus sebisanya membantu dirinya.
Keterbatasan ekonomi dan akses fasilitas kesehatan di Mang arai Timur ini membuat alat bantu yang sangat ia butuhkan itu terasa begitu mahal dan jauh dari jangkauan. Kisah Mama Susana adalah potret nyata tentang mereka yang terlupakan di balik indahnya bentang alam Manggarai Timur.
Ia adalah representasi dari para lansia disabilitas di pelosok yang masih terjebak dalam kesenjangan akses bantuan sosial. Sentuhan kasih kita hari ini adalah jawaban atas doa-doa panjang yang dipanjatkan Mama Susana di setiap sunyinya malam.
Harapan itu kini tertumpu pada sebuah kursi roda, benda sederhana yang bagi banyak orang mungkin biasa, namun bagi Mama Susana adalah kemerdekaan untuk bisa kembali berinteraksi dengan dunia luar. Dukungan dalam bentuk kursi roda dan bantuan pangan akan menjadi anugerah luar biasa yang mengakhiri penantian panjangnya dalam kesunyian.
Kisah Mama Susana adalah panggilan bagi nurani kita semua. Sebab, di setiap putaran roda yang kita berikan, ada doa-doa yang terjawab dan ada martabat lansia yang kembali terjaga di sisa usianya. Mari menjadi bagian dari jawaban atas doa Mama Susana di Desa Mokel.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....