Dari Selasar Pasar, Ina-Ina Kedang Berjuang untuk Masa Depan Anak

  • 31 Agt 2026 11:33 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Larantuka – Selasar Pasar Inpres Daerah Larantuka bukan sekadar tempat bertemunya penjual dan pembeli. Di ruang sederhana itu, para ina-ina Kedang menjalani kehidupan, mencari nafkah, beristirahat, sekaligus menyimpan harapan besar agar anak-anak mereka dapat meraih pendidikan hingga perguruan tinggi.

Sore menjelang malam, Selasa 11 Agustus 2026, aktivitas perdagangan di pasar perlahan berakhir. Setelah menutup lapak, sebagian ina-ina Kedang tidak langsung pulang, melainkan menata kembali tempat dagangan mereka menjadi ruang untuk beristirahat.

Lapak sederhana yang terbuat dari bambu dan dilapisi kardus, karung bekas, maupun baliho bekas telah menjadi bagian dari kehidupan mereka selama bertahun-tahun. Di tempat itulah mereka bertahan dengan menjual berbagai kebutuhan pangan, seperti jagung bose kering, kacang tanah, kacang hijau, jagung giling, kue rambut, jagung kuning, jagung pulut, tembakau, hingga sarung tenun.

Sejak sekitar tujuh bulan terakhir, selasar pasar tersebut juga menjadi lokasi pembinaan bagi para ina-ina Kedang. Kegiatan yang dilakukan dua kali dalam sebulan itu diisi dengan doa, sharing Kitab Suci, katekese, serta pembinaan sesuai kebutuhan mereka.

Pembinaan biasanya dimulai sekitar pukul 18.00 WITA, setelah para pedagang menutup lapak. Antusiasme para ibu mengikuti kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pasar bagi mereka bukan hanya tempat mencari penghasilan, tetapi juga ruang untuk saling berbagi pengalaman dan menguatkan satu sama lain.

Dalam setiap perjumpaan, salah satu hal yang sering dibicarakan adalah alasan para ina-ina Kedang tetap bertahan di pasar bahkan rela menginap selama bertahun-tahun. Jawaban mereka hampir selalu sama, yakni demi anak-anak.

Mereka rela meninggalkan kenyamanan rumah dan menjalani kehidupan sederhana di selasar pasar agar dapat membiayai pendidikan anak hingga meraih gelar sarjana. Bagi mereka, perjuangan tersebut merupakan bentuk kasih kepada keluarga dan investasi untuk masa depan anak-anak.

Selasar Pasar sebagai Rumah Penuh Kasih

Selasar pasar kemudian dapat dimaknai lebih dari sekadar tempat transaksi. Bagi para ina-ina Kedang, tempat itu adalah rumah penuh kasih, perjuangan, kesabaran, harapan, dan doa.

Setiap pagi sebelum matahari terbit, mereka telah bangun untuk menyiapkan barang dagangan. Sejak sekitar pukul 06.00 hingga 18.00 WITA, mereka menawarkan dagangan kepada pembeli dengan harapan memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Ketika lapak ditutup, tempat yang sama berubah menjadi ruang untuk beristirahat. Tikar sederhana menjadi tempat tidur, sementara dinginnya malam dan keterbatasan fasilitas harus mereka hadapi dengan keteguhan hati.

Perjuangan tersebut dijalani bertahun-tahun dengan satu harapan besar, yakni melihat anak-anak mereka berhasil menyelesaikan pendidikan. Karena kasih kepada anak-anak, jarak Kedang dan Larantuka seolah tidak lagi menjadi penghalang.

Selasar Pasar sebagai Altar yang Hidup

Selain sebagai rumah penuh kasih, selasar pasar juga dapat dimaknai sebagai "altar yang hidup". Altar yang biasanya dikenal sebagai tempat suci untuk berdoa dan mempersembahkan hidup kepada Tuhan, dalam kehidupan para ina-ina Kedang dapat hadir melalui pekerjaan dan perjuangan sehari-hari.

Lapak dan meja dagangan menjadi ruang untuk mempersembahkan kerja kepada Tuhan. Peluh yang jatuh ketika mengangkat dan menata jagung, kacang, maupun barang dagangan lainnya bukan sekadar keringat, tetapi bagian dari perjuangan yang memiliki nilai spiritual.

Kerja yang dilakukan dengan jujur juga menjadi bentuk ibadah. Ketika pedagang melayani pembeli dengan senyum dan ketulusan, pekerjaan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai bentuk pelayanan kepada sesama.

Kesucian "altar pasar" juga diwujudkan melalui kejujuran. Pedagang diingatkan untuk menjaga timbangan dan takaran, tidak menyembunyikan barang yang rusak, serta menghindari kata-kata yang dapat menyakiti sesama pedagang.

Bagi para ina-ina yang menginap di pasar, malam juga menjadi kesempatan untuk menyerahkan seluruh perjuangan kepada Tuhan. Doa sebelum tidur menjadi cara untuk memohon perlindungan sekaligus menyerahkan hasil usaha hari itu dan keluarga yang berada di rumah.

Kisah para ina-ina Kedang menunjukkan bahwa kasih tidak selalu hadir di rumah yang nyaman. Kasih juga dapat ditemukan di atas tikar sederhana di selasar pasar, dalam suara seorang ibu menawarkan jagung, serta dalam peluh yang jatuh demi masa depan anak-anak.

Di tempat sederhana itu, sebuah lapak bukan hanya menjadi tempat mencari rezeki. Ia menjadi ruang perjuangan, harapan, doa, dan pengabdian seorang ibu.

Selasar pasar akhirnya mengajarkan bahwa altar tidak selalu berdiri di dalam gereja. Kadang-kadang altar hadir dalam sebuah lapak sederhana, ketika seorang ibu menata dagangannya, bekerja dengan jujur, meneteskan keringat, lalu berharap kepada Tuhan agar hasil hari itu cukup untuk membawa pulang masa depan anak-anaknya.

Di antara jagung, kacang, tikar, peluh, dan harapan, para ina-ina Kedang terus menjalani hidup dengan keyakinan bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....