Melihat Ketangguhan Warga Flores dari Mata Kombes Pol. Bayu Suseno

  • 01 Sep 2026 08:25 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026. Dalam sekejap, rumah-rumah berguncang, warga berhamburan mencari tempat aman, dan sebagian harus meninggalkan rumah untuk bertahan di lokasi pengungsian.

Hari-hari setelah gempa tidak mudah. Di sejumlah wilayah, masyarakat harus menjalani kehidupan dengan berbagai keterbatasan. Tempat tidur seadanya, terpal menjadi pelindung, sementara kebutuhan air dan logistik harus dipenuhi secara bertahap.

Namun, di tengah situasi itu, ada sesuatu yang justru membekas bagi Kasatgas Humas Operasi Aman Nusa II Penanggulangan Bencana NTT, Kombes Pol. Bayu Suseno.

Selama menjalankan tugas dan berkeliling ke sejumlah wilayah terdampak, Kombes Pol. Bayu melihat masyarakat Flores tidak larut dalam situasi sulit. Mereka tetap bertahan, beraktivitas, dan saling membantu.

“Yang saya rasakan di sini, masyarakat NTT ini luar biasa. Yang pertama terkait dengan ketahanan mentalnya dengan adanya bencana. Mereka dengan gigih tetap bertahan hidup, tetap melakukan kegiatan-kegiatan,” ujar Kombes Pol. Bayu, Senin 31 Agustus 2026.

Di tengah situasi pascagempa, semangat itu juga terlihat dari anak-anak. Ketika kegiatan trauma healing digelar, mereka justru menyambutnya dengan riang. Bermain, tertawa, dan mengikuti kegiatan bersama seolah menjadi cara sederhana untuk mengembalikan keceriaan setelah mengalami bencana.

Bagi Kombes Pol. Bayu, kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa pemulihan tidak hanya berbicara tentang membangun kembali rumah dan fasilitas yang rusak. Ada kekuatan masyarakat yang menjadi bagian penting dari proses untuk bangkit.

Kekuatan itu terlihat semakin nyata ketika kebutuhan dasar terbatas. Di salah satu lokasi pengungsian, keterbatasan air menjadi persoalan. Bantuan yang datang kemudian disambut dan diturunkan bersama-sama oleh masyarakat.

Gotong royong menjadi bahasa yang menyatukan warga, relawan, dan petugas di tengah situasi sulit. Tidak banyak kata yang diperlukan. Tangan-tangan yang bekerja bersama sudah cukup menunjukkan bahwa bencana tidak mampu menghilangkan kepedulian antarsesama.

Selain itu, dirinya juga melihat masyarakat tetap menjaga ketertiban di tengah kondisi yang serba terbatas. Menurutnya, sikap tersebut menunjukkan bahwa kehidupan sosial masyarakat tetap berjalan meski sedang menghadapi tekanan akibat bencana.

“Di situasi gempa, masyarakat juga masih menjunjung tinggi aturan hukum, tidak melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum,” katanya.

Perjalanan menjalankan tugas di Flores pun meninggalkan kesan lain bagi Kombes Pol. Bayu. Di balik wilayah yang sedang berjuang pulih dari bencana, ia melihat daerah yang memiliki potensi besar.

Dalam perjalanan melintasi Bajawa hingga Lembor, ia melihat hamparan sawah yang subur. Bahkan, pengalaman sederhana menikmati beras baru dari hasil pertanian setempat menjadi salah satu kenangan yang menurutnya tidak akan dilupakan.

“Berasnya ini beras baru. Saya jauh dari Jawa, ternyata di sini ada lumbung padi yang luar biasa dan enak sekali. Ini yang tidak pernah saya lupakan,” ujarnya.

Ia juga melihat potensi wisata Flores, termasuk keindahan alam dan Danau Kelimutu. Potensi tersebut, menurutnya, dapat menjadi kekuatan bagi daerah untuk terus berkembang setelah melewati masa bencana.

Kini, ketika penanganan mulai bergerak menuju tahap prapemulihan dan pemulihan, tantangannya bukan hanya mengembalikan bangunan yang rusak. Lebih dari itu, kehidupan masyarakat harus kembali berjalan.

Dan di tengah proses panjang tersebut, ketangguhan warga Flores menjadi modal yang tidak kalah penting.

Kombes Pol. Bayu berpesan, agar masyarakat terdampak gempa tetap kuat dan percaya bahwa proses pemulihan akan terus dilakukan bersama oleh pemerintah dan seluruh unsur terkait.

“Segala sumber daya yang dimiliki oleh kami akan kami gunakan, sehingga nanti masyarakat ke depannya dapat pulih kembali, dapat beraktivitas seperti sedia kala, dan dapat menata masa depan yang lebih baik dari yang kemarin,” ungkapnya.

Gempa mungkin meninggalkan retakan pada tanah, rumah, dan bangunan. Namun, di tengah reruntuhan itu, semangat untuk bangkit tetap tumbuh.

Di Flores, gotong royong dan ketangguhan masyarakat menjadi bukti bahwa pemulihan bukan hanya tentang apa yang dibangun kembali, tetapi juga tentang bagaimana sebuah masyarakat memilih untuk tetap berdiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....