Guru Setia Penyala Cahaya Bagi Anak Bangsa
- 20 Nov 2025 13:29 WIB
- Ende
KBRN, Ende: Di sebuah sekolah kecil di Ende, SMA Taruna Vidya, terdapat seorang guru yang namanya mungkin tidak tercatat dalam deretan penghargaan nasional. Namun bagi banyak murid yang pernah duduk di hadapannya, sosok itu menjadi cahaya yang tak pernah padam: Primus Minggu.
Lahir pada 16 September 1972,di Maunori, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo perjalanan hidup seorang Primus tidaklah selalu mulus. Ia sempat menempuh pendidikan di Universitas Timor Timur, namun badai perubahan politik kala referendum membuatnya harus kembali ke Flores.
Ia pulang sebagai seorang perantau yang belum selesai kuliah, lalu menjadi petani kemudian menikah dengan Emiliana Sara, dan membangun hidup sederhana tanpa kepastian masa depan. Meski demikian mimpinya untuk menjadi seorang guru, profesi yang dilabeli sebagai pahlawan tanpa tanda jasa tidak pernah berubah. Ia selalu ingin menjadi guru.
“Dari kecil saya lihat guru itu bermental luar biasa. Bisa bicara di depan umum, berani dan pintar. Saya jatuh cinta pada profesi itu,” katanya penuh yakin kepada RRI, Kamis, (20/11/2025)
Pada tahun 2004, panggilan itu akhirnya datang. Ia diminta mengajar di SMA Tarvid Ende sebagai guru honorer. Honornya hanya 150 ribu rupiah sebulan. Jumlah yang bahkan tidak cukup untuk menutup kebutuhan rumah tangga.
Namun, dari sanalah seorang Primus menemukan kembali jati dirinya. Menemukan jiwa pengabdian yang sempat terkubur karena situasi. Dengat penuh semangat, ia kemudian melanjutkan studinya dan menyelesaikan di Prodi Fisika Universitas Flores.
Ijazah dari dari Uniflor ini menjadi jalan baginya untuk mengabdikan seluruh tenaga, waktu dan pikiran untuk membimbing, menata dan memperbaiki siswa-siswa yang sudah ditolak di sekolah lain.
"Sekian tahun mengabdi di lembaga yang sangat saya cintai ini. Harus diakui jika Tarvid memang dikenal sebagai sekolah yang menampung siswa buangan. Siswa yang dikeluarkan dari sekolah mereka sebelumnya. Mereka bermasalah dalam proses belajar, sering bermasalah dengan guru dan merugikan sekolahnya. Mereka juga kerap atau dianggap tidak layak bersaing di sekolah-sekolah favorit," ujarnya dengan nada dan ekspresi haru.
Namun bagi Primus, setiap anak datang dengan cahaya. Dia hanya redup sesaat karena keadaan, dan cahaya itu hanya tetap dijaga agar terus menyala, butuh disulut ketika padam.
Primus bercerita, jika setiap hari ia harus menghadapi berbagai karakter anak-anak. Ada yang bandel, pemalu, pendiam, atau kehilangan motivasi. Tetapi Primus tidak pernah mengeluh.
Ia memilih untuk terus memberikan nasehat kepada murid-muridnya. Mengingatkan mereka untuk selalu bersyukur. Untuk mengingat perjuangan orang tua mereka yang sangat berharap agar terus bersekolah hingga tamat.
Bagaimanapun menurutnya, ijzah akan menjadi kunci untuk membuka pintu pekerjaan dimanapun. “Kalau kamu diberi kesempatan sekolah, itu rezeki. Jangan sia-siakan. Banyak anak-anak yang tidak punya kesempatan untuk sekolah,” ucapnya kepada para muridnya. Kalimat yang sering diulang-ulangnya disetiap apel pagi, bahkan sudah seperti litani di lingkungan SMA Tardvid.
Saat kami mewawancarainya dalam rangka memperingati Hari Guru tahun 2025, komitmen akan pengabdian tulus kini telah teruji. Kenyataan dengan gaji kecil tak pernah membuatnya mundur atau berhenti.
Ketika kebutuhan keluarga tidak tercukupi, seorang Primus tidak pernah merasa malu untuk bekerja menjadi tukang paruh waktu atau mengambil pekerjaan lain. Baginya, selama itu halal bukanlah menjadi masalah. Disitulah martabat seorang suami dan ayah teruji.
Di mata istrinya, Emiliana Sara, Primus adalah sosok yang tidak pernah berubah. Ia menilai suaminya tetap sama sejak hari pertama mereka bersama. “Beliau selalu disiplin, tidak pernah mengeluh. Walaupun gajinya kecil, dia tetap mengajar dengan hati penuh,” kata Emiliana.
Sementara itu dimata murid-muridnya, Primus lebih dari sekadar pengajar fisika tapi lebih dari seorang guru. Gabriela Yolanda Longga, salah satu siswi menilai Pak Primus sebagai guru yang baik dan dekat dengan murid.
“Cara mengajarnya menarik, kami bisa mengerti karena beliau sabar dan tidak marah-marah,” ujarnya.
Marvel, siswa kelas 12 IPA, bahkan menegaskan bahwa Pak Primus adalah panutan. Ia menyebutkan jika sosok gurunya itu selalu memberi teladan baik di dalam maupun di luar kelas. “Beliau bukan hanya ajarkan fisika, tapi ajarkan kami jadi anak yang baik. Itu yang kami ingat,” katanya.
Di tengah derasnya tuntutan dunia, ketika profesi guru sering disorot karena kesejahteraan yang tidak seimbang dengan tanggung jawab, Primus Minggu berdiri sebagai pengingat: jika ada orang-orang yang tetap memilih mengabdi dengan hati, bahkan ketika imbalannya tidak seberapa dan status sebagai guru yayasan tidak pernah sekalipun disebut di senayan yang megah atau sekedar di ruang dewan daerah.
Primus tidak pernah mengajar untuk mendapat tepuk tangan. Ia mengajar untuk menyalakan cahaya di benak anak-anak, terutama mereka yang nyaris padam oleh keadaan.
Meski dia tahun pasti jika tidak semua yayasan sejahterah. Tidak semua yayasan mempu memenuhi standart membayar upah yang sama, meski semua yayasan bergerak menuju arah yang sama yakni menjadikan anak bangsa keluar dari kegelapan aksara.
Di sekolah kecil itu, di kelas sederhana yang mungkin tidak pernah masuk headline nasional, Primus Minggu menghabiskan puluhan tahun hidupnya. Dengan kapur di tangan, suara serak yang penuh semangat dan kesabaran yang tidak pernah habis, ia tetap teguh menjaga, agar setiap anak tahu bahwa masa depan mereka masih sangat panjang, dan akan banyak naskah cerita kehidupan yang akan mereka lakoni.
Menurut sorang Primus, mencerdaskan anak bangsa bukan pekerjaan, melainkan sebuah panggilan hidup, yang akan terus bergema jika tidak melaksanakannya. Panggilan pahlawan tanpa tanda jasa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....