Tikam Turo, Tradisi Sakral Awali Semana Santa Larantuka
- 31 Mar 2026 12:09 WIB
- Ende
Poin Utama
- 1. Tikam Turo sebagai penanda awal Semana Santa. Tradisi menancapkan kayu dan bambu ini menjadi simbol dimulainya rangkaian Semana Santa serta persiapan menyambut prosesi suci di Larantuka.
- 2. Makna spiritual dan fungsi. Dalam prosesi Turo berfungsi sebagai tempat mengikat lilin saat Jumat Agung, sekaligus melambangkan suasana hening, refleksi, dan kesiapan iman umat.
- 3. Keterlibatan masyarakat dan peran adat. Tradisi ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk generasi muda, serta didukung peran penting suku-suku adat dan Tuan Mardomu Terang dalam persiapan dan pelaksanaan.
RRI.CO.ID, Flotim - Di sudut-sudut Kota Larantuka, suasana perlahan berubah. Riuh aktivitas harian mulai mereda, digantikan dengan kesibukan yang sarat makna. Warga dari berbagai kalangan tampak bergotong royong menancapkan kayu dan bambu di sepanjang jalur prosesi.
Tradisi itu dikenal sebagai Tikam Turo, sebuah penanda bahwa rangkaian Semana Santa segera dimulai. Tikam Turo bukan sekadar aktivitas fisik. Ia adalah simbol kesiapan batin dan kebersamaan umat dalam menyambut pekan suci.
Secara harfiah, Tikam Turo berarti menancapkan kayu kukung ke tanah sebagai penyangga bilah bambu atau lante, yang kemudian membentuk pagar sederhana di sepanjang rute prosesi. Di balik kesederhanaannya, pagar bambu itu memiliki fungsi penting.
Pada puncak perayaan, khususnya saat Jumat Agung, lilin-lilin akan diikat di bilah bambu tersebut, menerangi jalur sakral yang dilalui arak-arakan patung Tuan Ma dan Tuan Ana. Cahaya lilin itu bukan hanya penerang jalan, tetapi juga lambang iman dan pengharapan umat.
Tradisi ini dilaksanakan tiga hari sebelum Tri Hari Suci. Pada waktu yang sama, umat mulai memasuki suasana hening yang dikenal sebagai Rabu Trewa, masa refleksi untuk mempersiapkan diri secara spiritual.
Kota Larantuka yang biasanya hidup perlahan menjadi lebih tenang, menghadirkan nuansa khidmat yang khas. Keterlibatan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam Tikam Turo.
Anak-anak muda, orang tua, hingga tokoh adat bahu membahu menyelesaikan pekerjaan ini. Tidak ada sekat, semua larut dalam semangat yang sama, menjaga warisan leluhur sekaligus merawat iman yang diwariskan turun-temurun.
Salah seorang pemuda di sekitar Kapela Tuan Ma, Yohanes Fernandez (25), mengatakan bahwa keterlibatan generasi muda dalam Tikam Turo bukan sekadar membantu pekerjaan. Hal itu juga merupakan bagian dari tanggung jawab mereka dalam menjaga tradisi.
“Bagi kami anak muda, Tikam Turo ini bukan hanya kerja fisik. Ini bagian dari warisan yang harus kami jaga. Dari sini kami belajar kebersamaan, juga makna iman,” ujarnya kepada RRI, Selasa, 31 maret 2026 via seluler.
Ia menambahkan, proses ini juga menjadi ruang belajar bagi generasi muda. Melalui keterlibatan itu, mereka dapat memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Semana Santa.
“Kami dilibatkan sejak awal, dari persiapan sampai pelaksanaan. Jadi bukan hanya ikut-ikutan, tapi benar-benar mengerti arti dari setiap proses,” katanya.
Dalam struktur adat dan religius, terdapat peran penting dari empat suku utama, yakni Ama Koten, Ama Kelen, Ama Hurint, dan Ama Maran, yang memiliki tanggung jawab dalam pelaksanaan prosesi. Sementara itu, Tuan Mardomu Terang memegang peranan dalam menyiapkan perlengkapan pembuatan turo, armida, serta kebutuhan konsumsi bagi masyarakat yang terlibat.
Persiapan Tikam Turo sendiri tidak berlangsung singkat. Warga telah memulainya sejak satu hingga dua bulan sebelumnya. Setiap detail dipersiapkan dengan cermat, mencerminkan kesungguhan dalam menjaga tradisi yang telah mengakar kuat di tanah Flores Timur.
Lebih dari sekadar tradisi, Tikam Turo adalah bahasa sunyi yang menyatukan manusia, budaya, dan iman. Ketika bambu-bambu itu berdiri tegak di sepanjang jalan, ia bukan hanya menjadi pagar, tetapi juga penanda bahwa Larantuka telah siap menyambut para peziarah dan memasuki perayaan iman yang penuh makna.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....