Ketahanan Pangan Lokal Jadi Solusi Hadapi Kenaikan Harga

  • 16 Apr 2026 05:04 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Ketahanan pangan Kabupaten Ende masih aman dengan dukungan panen padi dan jagung.
  • Pangan lokal seperti jagung dan umbi-umbian menjadi andalan utama masyarakat.
  • Diversifikasi konsumsi pangan diperlukan untuk mengurangi ketergantungan pada beras.
  • Strategi pertanian meliputi tumpang sari, penggunaan bibit unggul, dan adaptasi perubahan iklim.
  • Generasi muda didorong terlibat melalui program brigade pangan berbasis pertanian modern.

RRI.CO.ID, Ende - Ketahanan pangan berbasis potensi lokal dinilai menjadi solusi strategis dalam menghadapi krisis pangan serta kenaikan harga bahan pokok. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende, H. Ibrahim Gadir Dean, SP, dalam program “Indonesia Cerdas” RRI Pro 1 Ende, Rabu, 15 April 2026.

Menurutnya, kondisi ketahanan pangan di Kabupaten Ende saat ini relatif aman, khususnya untuk komoditas utama seperti padi dan jagung. Ia menjelaskan bahwa dalam waktu dekat daerah tersebut akan memasuki masa panen raya dari sekitar 3.000 hektare lahan padi, baik sawah irigasi maupun tadah hujan.

Selain itu, produksi jagung juga mulai memasuki masa panen, sehingga kebutuhan pangan masyarakat masih dapat dipenuhi dari hasil lokal. “Untuk sementara ini, ketahanan pangan kita masih terkendali dengan dukungan pangan lokal seperti jagung dan umbi-umbian,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa pasokan beras masih bergantung pada distribusi dari luar daerah. Stabilitas harga sejauh ini tetap terjaga berkat intervensi pemerintah melalui distribusi beras serta kelancaran transportasi laut.

Lebih lanjut, Ibrahim menekankan pentingnya diversifikasi pangan dengan mengurangi ketergantungan terhadap beras. Ia mendorong masyarakat untuk mulai mengonsumsi pangan lokal seperti jagung, ubi kayu, dan kacang-kacangan secara rutin.

“Minimal satu sampai dua kali dalam seminggu masyarakat bisa mengonsumsi pangan lokal agar tidak bergantung pada beras,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa pangan lokal memiliki nilai kesehatan yang lebih baik karena umumnya minim penggunaan bahan kimia dalam proses budidaya.

Dalam upaya meningkatkan produksi, Dinas Pertanian terus mendorong petani untuk menanam berbagai komoditas secara bersamaan (tumpang sari), serta menggunakan bibit unggul berumur pendek guna mengantisipasi perubahan iklim dan musim kemarau panjang.

Selain itu, pemerintah daerah juga aktif melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, kelompok tani, dan pelaku usaha, guna memperkuat distribusi hasil pertanian agar tidak merugikan petani.

Ibrahim juga mengajak generasi muda untuk terlibat di sektor pertanian melalui program “brigade pangan” yang didukung pemerintah pusat. Program ini menyediakan bantuan alat dan sarana produksi bagi petani milenial.

“Pertanian saat ini sudah modern dan menjanjikan. Sekali panen bisa menghasilkan puluhan juta rupiah,” ucapnya.

Di akhir perbincangan, ia mengajak seluruh masyarakat untuk aktif menanam dan mengonsumsi pangan lokal sebagai langkah nyata menjaga ketahanan pangan daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....