Evakuasi Pendaki Ilegal Semeru Selesai, Satu Patah Kaki Dilarikan ke Rumah Sakit

  • 07 Jun 2026 13:38 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Proses evakuasi tiga pendaki ilegal yang terjatuh di kawasan Gunung Semeru akhirnya rampung setelah berlangsung selama lima hari, Jumat, 5 Juni 2026. Satu orang mengalami patah tulang kaki dan langsung dirujuk ke rumah sakit menggunakan ambulans.

Dua pendaki lainnya berhasil turun lebih dulu dalam kondisi selamat dengan keluhan dehidrasi ringan.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) Ir. Rudijanta Tjahja Nugraha, S.Hut., M.Sc. dalam siaran pers nomor PG.10/T.8/TU/HMS.01.08/B/06/2026, Minggu 7 Juni 2026 menyatakan evakuasi terhambat medan terjal dan lokasi korban yang sulit dijangkau.

Ketiga pendaki diketahui masuk melalui jalur ilegal Candi Jawar Purbakala saat pendakian menuju puncak Semeru masih ditutup karena aktivitas vulkanologi.

Rudijanta menjelaskan, pada Kamis, 4 Juni 2026, tim gabungan yang terdiri dari BB TNBTS, Basarnas, TNI, Masyarakat Mitra Polhut (MMP), Masyarakat Peduli Api (MPA), PPGST, Gimbal Alas, relawan, dan warga setempat melanjutkan evakuasi di lokasi kejadian.

Dua pendaki yang selamat berhasil dievakuasi turun menuju posko pada hari itu. Sementara satu pendaki lain yang mengalami patah tulang kaki masih berada di lokasi sekitar 250 meter sebelum punggungan, menunggu proses evakuasi lanjutan.

Lebih lanjut, Jumat dini hari, pukul 00.10 WIB, tim evakuasi bersama dua pendaki selamat tiba di posko. Keduanya langsung dibawa ke Puskesmas Ampelgading. Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi mereka baik dengan keluhan dehidrasi ringan.

Proses evakuasi korban dengan patah tulang kaki dilanjutkan pada Jumat, 5 Juni 2026, pukul 08.00 WIB. Tim gabungan kembali bergerak melewati medan terjal dan sulit dijangkau.

Korban akhirnya tiba di posko pada pukul 19.20 WIB—lebih dari 11 jam perjalanan dari lokasi kejadian. Setibanya di posko, korban langsung mendapat pemeriksaan kesehatan dan penanganan medis awal sebelum dirujuk ke rumah sakit menggunakan ambulans.

Rudijanta menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, termasuk Basarnas, TNI-Polri, PPGST, Gimbal Alas, MMP, MPA, relawan, serta masyarakat setempat.

"Kejadian ini menjadi pengingat bahwa hingga saat ini pendakian menuju puncak Gunung Semeru masih ditutup," katanya.

Rudijanta kembali mengimbau masyarakat untuk tidak memaksakan diri melakukan pendakian melalui jalur tidak resmi maupun memasuki kawasan yang sedang ditutup. Selain melanggar ketentuan, aktivitas tersebut berisiko tinggi terhadap keselamatan jiwa dan menyulitkan proses penanganan darurat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....