Densus 88 Edukasi Bahaya Radikalisme dan Bullying di Sekolah
- 22 Apr 2026 13:12 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Pencegahan kekerasan terhadap anak serta penyebaran paham radikalisme terus digencarkan aparat kepolisian melalui edukasi langsung ke lingkungan sekolah. Kegiatan sosialisasi digelar di SMPN 1 Sukasada dengan menghadirkan Kasatgaswil Bali Densus 88 Anti Teror Polri, Sri Astutiningsih, Rabu, 22 April 2026. Langkah ini menyasar pelajar sebagai bentuk pembekalan sejak dini agar lebih waspada terhadap berbagai ancaman sosial.
Kegiatan tersebut diikuti perwakilan siswa dari kelas 1, 2, dan 3 yang didampingi para guru. Suasana sosialisasi berlangsung interaktif dengan berbagai contoh kasus yang dekat dengan kehidupan remaja. Materi yang disampaikan menitikberatkan pada bahaya perundungan (bullying) serta potensi masuknya paham radikal melalui lingkungan sekitar maupun dunia digital.
Dalam pemaparannya, Sri Astutiningsih menjelaskan bahwa perundungan tidak bisa dianggap sepele. Dampaknya dapat memicu tekanan mental, stres, bahkan menumbuhkan rasa dendam pada korban. Kondisi inilah yang berpotensi dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menanamkan paham radikalisme.
“Sering kali anak yang menjadi korban bullying tidak berani menyampaikan kepada orang tua. Mereka justru melampiaskan melalui media sosial atau permainan online, bahkan berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenal,” ujarnya. Ia menambahkan, situasi tersebut membuka peluang bagi oknum radikal untuk mendekati dan mempengaruhi anak.
Ia juga mengungkapkan bahwa kasus serupa pernah terjadi di wilayah lain, di mana anak-anak menjadi target pendekatan kelompok radikal melalui media digital. Fenomena ini menunjukkan bahwa ancaman radikalisme kini semakin luas dan menyasar usia pelajar. Oleh karena itu, kewaspadaan dan literasi digital menjadi hal yang sangat penting.
“Kehadiran saya di sini adalah untuk memberikan pemahaman kepada adik-adik semua agar tidak mudah terpengaruh dan terpapar paham radikalisme,” tegasnya. Ia mengingatkan bahwa paparan paham ekstrem dapat mengubah cara berpikir anak menjadi lebih agresif dalam menyikapi masalah.
Selain itu, peran orang tua dan pihak sekolah sangat menentukan dalam menjaga anak dari pengaruh negatif. Komunikasi yang terbuka dinilai mampu mencegah anak mencari pelampiasan di luar lingkungan yang aman. Lingkungan sekolah juga diharapkan menjadi ruang yang nyaman untuk berbagi dan menyelesaikan masalah.
“Jika ada perubahan perilaku pada anak, segera lakukan pendekatan dan ajak komunikasi. Jangan sampai ada pihak luar yang lebih dulu masuk dan mempengaruhi dengan paham yang menyimpang,” tambahnya. Ia menekankan pentingnya kepekaan semua pihak terhadap perubahan sikap anak.
Sementara itu, Kasi Humas Polres Buleleng, Yohana Rosalin Diaz, mendorong siswa untuk berani melaporkan jika mengalami atau mengetahui tindakan kekerasan. Menurutnya, keberanian untuk berbicara menjadi langkah awal mencegah masalah berkembang lebih besar.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap anak-anak yang mengalami atau mengetahui adanya tindakan kekerasan berani speak up kepada orang tua, guru, maupun pihak berwajib sehingga dapat segera ditangani,” ujarnya. Dengan edukasi ini, diharapkan tercipta lingkungan sekolah yang lebih aman dan bebas dari pengaruh radikalisme.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....