Filosofi Waktu dan Alam dalam Perayaan Nyepi di Bali
- 16 Mar 2026 08:22 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Pergantian tahun dalam kalender Saka di Bali bukan sekadar perubahan angka, melainkan sebuah momentum yang sangat erat kaitannya dengan fenomena alam. Perhitungan bulan (sasih) dari Sasih Kasanga (sembilan) menuju Sasih Kadasa (sepuluh) selalu bertepatan dengan titik balik matahari atau pergantian musim yang krusial, biasanya sekitar tanggal 21 atau 22 Maret.
Perhitungan waktu di Bali sangat dipengaruhi oleh pengamatan terhadap alam. Pergantian tahun ini menandai adanya perubahan cuaca yang signifikan, yang secara langsung memengaruhi kehidupan manusia.
Bagi masyarakat agraris di masa lalu, tanda-tanda alam ini menjadi panduan penting untuk menentukan masa tanam dan memahami siklus ekologi lingkungan. Sebelum menjadi agenda nasional, Bali memiliki tradisi Nyepi Lokal yang beragam di berbagai daerah, seperti Nyepi Segara, Nyepi Desa, Nyepi Adat, Nyepi Lanang Istri, Nyepi Ron Busung, Nyepi Suara dan sebagainya.
Koordinator Sabha Nayaka Majelis Desa Adat Provinsi Bali, Doktor I Gusti Made Ngurah kepada RRI, Senin, 16 Maret 2026 mengatakan pada tahun 1961, para tokoh dan intelektual di Bali mulai menggagas sebuah kesatuan pelaksanaan Nyepi yang disempurnakan. Perjuangan panjang ini membuahkan hasil pada 19 Januari 1983 melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 3 Tahun 1983, yang secara resmi menetapkan Hari Suci Nyepi sebagai Hari Libur Nasional.
Sejak saat itu, perhatian umat Hindu secara kolektif terfokus pada pelaksanaan Nyepi yang serentak di seluruh Indonesia. Perubahan dari Kasanga ke Kadasa adalah tanda transisi alam yang nyata. Inilah alasan mengapa disebut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka, karena persamaan pergantian sasih,
“Bukan Nyepi merayakan tahun baru Saka atau tahun Saka bukan untuk Nyepi tetapi persamaan perayaannya itu, ada pergantiannya, pergantian yang Namanya Tilem Caitra Masa menuju Waisaka, itu bersamaan dengan sasih Kesanga menuju Kedasa,” ujar Gusti Made Ngurah.
Tahun baru Saka menyiratkan semangat persatuan dan pembaruan kehidupan manusia yang dilakukan raja Kaniska I pada tahun 78 M. Selain itu, pada jaman Kerajaan di Indonesia, tahun Saka juga dipergunakan di berbagai prasasti.
Menurut Gusti Made Ngurah, penentuan tingkatan upacara besar di pura Besakih juga berdasarkan akhiran angka tahun Saka, seperti upacara Panca Bali Krama, Eka Dasa Rudra dan Panca Kirtya atau Maligia Agung marebu Bumi.
“Jika tahun Saka berakhir Nol (satu nol nya), misalnya nanti 1950 akan diadakan upacara di Besakih namanya Panca Bali Krama, kalau tahun Saka berakhiran Nol nya Dua akan dilaksanakan upacara Eka Dasa Rudra, dan nanti kalau tahun berakhiran Nol nya Tiga akan diadakan upacara yang disebut upacara Maligia Agung Merebu bumi seribu tahun sekali," kata Gusti Made Ngurah mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....