Kaba Rantau Pro4 RRI Padang menyapa Perantau

  • 02 Mar 2026 16:01 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID,Padang – Tentu kita sangat familiar dengan peribahasa “Lain lubuk lain ikannya”, yang artinya setiap daerah, tempat atau masyarakat memiliki adat, kebiasaan, aturan dan tata cara yang berbeda-beda. Seperti halnya acara khusus yang ada di Programa 4 (Pro4) di jam 17.00 WIB yaitu acara “Kaba Rantau” yang khusus menyajikan narasumber masyarakat diperantauan, ini sebagai sarana silahturahmi dan komunikasi untuk mengetahui keadaan seperti apa para perantau diperantauan. Selama bulan Ramadhan acara 'Kaba Rantau' akan hadir di Pro4 RRI Padang 92,4 FM.

Untuk edisi 21 februari 2026, menghadirkan narasumber Erianto Naazar. Ia adalah Atase Hukum KBRI Riyadh Arab Saudi yang mengulas tentang suasana di Riyadh untuk WNI yang ada disana. Perbedaan waktu yang panjang dibanding di Indonesia sekitar 4 jam perbedaannya. Saat acara di Padang jam 17.00 WIB, di Riyadh baru menunjukkan jam 13.00 siang.

Banyak yang menarik untuk diketahui tentang kebiasaan masyarakat disana atau kebiasaan masyarakat Indonesia disana saat Ramadan. Disana WNI yang tergabung dalam majelis taklim ada kegiatan Tarhim Ramadan namanya dengan kegiatan pengajian dan makan bersama. Sementara masyarakat Arab Saudi mereka melakukan silahturami sesama keluarga, disana tidak begitu meriah dibandingkan silahturahmi seperti di Indonesia. Mereka hanya melakukan silahturahmi rutin karna bagi masyarakat saudi dihari libur (Jumat dan Sabtu) memang wajib kerumah orang tua mereka.

Terkait dengan kegiatan salat Tarawih di Arab Saudi kebanyakan dengan 8 rakaat, meski ada juga yang jumlahnya 20 rakaat. Tapi kebanyakan hanya 8 ditambah salat witir 3 rakaat. Menariknya setiap akhir salat Tarawih ada yang membaca doa Qunut yang durasinya panjang sekitar 15 menit berdiri membaca doa yang panjang. Selama Ramadan jadwal salat Isya diundur sekitar 40 menit dan ini merupakan kebijakan Kerajaan Arab saudi untuk memberikan kelapangan untuk menikmati berbuka.

Untuk kuliner Ariyanto menyebut, kurma akan banyak dijumpai dibanding hari biasa. Kemudian kue-kue yang rasanya manis. "Berbuka puasa yang dinikmati bersama keluarga sebenarnya tergantung tradisi seperti ada kue yang dikenal dengan samosa, shorba seperti sup bubur kental khas Arab. Juga ada kue manis kunava sebagai hidangan penutup, yang jelas makanannya lebih cenderung manis," tuturnya.

Bagi perantau seperti Ariyanto, tentu sangat rindu dengan masakan kampung halaman. Beliau lahir di Canduang Kabupaten Agam dan sudah lebih dari 3 tahun bertugas sebagai Atase Hukum KBRI Riyadh. "Yang paling dirindukan masakan adalah randang itiak jao, ikan bilih. Randang misalnya, bisa saja dibuat di Arab masakan itu. Tapi akan berbeda rasanya karena bahannya juga berbeda dengan yang dikampung halaman," ucapnya.

Tentang tradisi membangunkan orang sahur seperti di tanah air tidak ditemui di Arab. Bunyi kumandang di masjid hanya diperuntukan untuk azan dan iqomah, dari sini dapat dilihat bahwa saling menghargai masyarakatnya sangat tinggi dan menjunjung berbedaan

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....