Stigma Masih Jadi Penghambat Utama Deteksi Dini TBC di Sumbar

  • 29 Jun 2026 00:04 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang – Stigma yang masih melekat di tengah masyarakat menjadi salah satu penghambat utama dalam upaya deteksi dini tuberkulosis (TBC) di Sumatera Barat. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian penderita enggan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan meski telah mengalami gejala TBC.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Aklima, mengatakan masih banyak masyarakat yang menganggap TBC sebagai penyakit yang memalukan atau dikaitkan dengan hal-hal di luar penjelasan medis. Akibatnya, pasien baru datang berobat ketika kondisinya sudah semakin parah dan berpotensi menularkan penyakit kepada orang lain.

"Stigma daripada TB ini masih menganggap bahwa itu penyakit yang tidak disebabkan oleh bakteri. Ada yang mengatakan penyakit kutukan, penyakit yang memalukan sehingga mereka tidak mau berobat dan tidak mau mengakui bahwa dirinya menderita TB," ujar Aklima dalam dialog Indonesia Sehat Pro 1 RRI Padang, Jumat 26 Juni 2026.

Menurutnya, masyarakat perlu lebih waspada apabila mengalami batuk selama lebih dari dua minggu yang disertai penurunan berat badan, nafsu makan menurun, serta keringat malam. Gejala tersebut sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan agar diagnosis dapat ditegakkan lebih cepat dan pengobatan bisa segera dimulai.

"Sayangnya orang-orang yang di sekitar pasien tidak mau makan obat TPT karena merasa tidak menderita penyakit. Padahal itu adalah pencegahan supaya TB ini bisa kita tanggulangi," ujarnya.

Sementara itu, Dokter spesialis paru RSUP Dr. M. Djamil Padang sekaligus akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Irvan Medison, mengatakan stigma juga menjadi tantangan dalam penanganan kasus TBC resisten obat. Menurutnya, tidak sedikit pasien yang menolak memulai pengobatan karena khawatir dikucilkan oleh lingkungan sekitar.

"Pasien kadang-kadang menolak untuk memulai pengobatan dengan berbagai macam alasan. Kadang-kadang pasien ini dikucilkan, sehingga dia malas memulai pengobatan karena takut ketahuan tetangganya," ujar Irvan.

Irvan menegaskan, perubahan cara pandang masyarakat terhadap TBC harus terus dilakukan melalui edukasi yang berkesinambungan. "TB itu bukan penyakit kutukan dan bisa diobati kalau pengobatannya dilakukan secara teratur. Mengubah pemahaman masyarakat memang butuh waktu dan harus dilakukan terus-menerus," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....