Dinkes Sumbar Ungkap Empat Daerah dengan Estimasi Kasus TBC Tertinggi

  • 28 Jun 2026 04:20 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang – Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat mengungkapkan hasil estimasi terbaru menunjukkan Kabupaten Agam diperkirakan menjadi daerah dengan beban kasus tuberkulosis (TBC) tertinggi di provinsi tersebut. Selain Agam, Padang Pariaman, Pesisir Selatan, dan Pasaman Barat juga masuk dalam wilayah dengan estimasi kasus TBC yang tinggi.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Aklima, mengatakan estimasi tersebut disusun oleh pemerintah pusat berdasarkan sejumlah indikator. Indikator yang digunakan meliputi jumlah kasus baru pada tahun-tahun sebelumnya, jumlah penduduk, tingkat kemiskinan, kepadatan penduduk, hingga jumlah perokok.

"Estimasi ini bukan dibuat oleh provinsi, tetapi dari pusat. Perhitungannya berdasarkan beberapa indikator, seperti jumlah kasus baru pada tahun-tahun sebelumnya, jumlah penduduk yang merokok, jumlah penduduk miskin, hingga kepadatan penduduk di suatu daerah," ujarnya dalam Dialog Indonesia Sehat di Pro 1 RRI Padang, Jumat 26 Juni 2026.

Menurut Aklima, Kota Padang selama ini tetap mencatat jumlah kasus TBC yang tinggi karena memiliki populasi penduduk terbesar di Sumatera Barat. Namun berdasarkan hasil estimasi terbaru, Kabupaten Agam diperkirakan memiliki beban kasus tertinggi, disusul Padang Pariaman, Pesisir Selatan, dan Pasaman Barat.

"Kalau sekarang berdasarkan hasil estimasi, yang tertinggi itu Agam. Kemudian Padang Pariaman juga cukup tinggi, dilanjutkan Pesisir Selatan dan Pasaman Barat," ujarnya.

Ia menjelaskan mayoritas penderita TBC berasal dari kelompok usia dewasa produktif. Banyak kasus bermula dari infeksi laten yang baru berkembang menjadi penyakit aktif ketika daya tahan tubuh seseorang menurun akibat berbagai faktor, seperti kondisi gizi, aktivitas, maupun penyakit penyerta.

Aklima menambahkan, stigma di masyarakat masih menjadi tantangan besar dalam menemukan kasus TBC secara dini. Banyak penderita enggan memeriksakan diri karena menganggap TBC sebagai penyakit memalukan atau bahkan dikaitkan dengan mitos di luar aspek medis.

"Masih ada anggapan bahwa TBC itu penyakit kutukan atau penyakit yang memalukan. Akibatnya, ketika sudah batuk lebih dari dua minggu, mereka menganggap itu hanya batuk biasa dan tidak segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan," ujarnya.

Aklima mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri apabila mengalami batuk selama lebih dari dua minggu, terutama jika disertai penurunan berat badan, nafsu makan berkurang, dan keringat malam. Deteksi dini dinilai menjadi langkah penting untuk memutus rantai penularan sekaligus mendukung target eliminasi TBC pada 2030

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....