Tips Medis Ajarkan Anak Puasa tanpa Dehidrasi

  • 20 Feb 2026 15:10 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Penerapan pola hidup sehat bagi anak yang baru belajar berpuasa menjadi perhatian utama para praktisi kesehatan anak di bulan Ramadan. Dokter spesialis anak, Wilda Haliza, mengingatkan para orang tua untuk waspada terhadap risiko gangguan metabolisme pada tubuh kecil mereka.

Fokus utama dalam pendampingan medis ini adalah keseimbangan nutrisi dan hidrasi yang tepat agar fungsi organ anak tetap berjalan optimal meskipun sedang menahan lapar.

Hal yang paling dikhawatirkan secara medis pada anak yang berpuasa adalah kondisi hipoglikemia atau penurunan kadar gula darah secara drastis. Berbeda dengan orang dewasa yang memiliki cadangan energi luas di otot dan lemak, anak-anak memiliki cadangan glukosa yang sangat terbatas.

"Pada anak penyimpanan glukosanya itu sedikit, jadi risiko untuk hipoglikeminya itu lebih tinggi dibandingkan dewasa," ujar Wilda dalam program Dokter Etam di RRI Samarinda, Kamis 19 Februari 2026.

Selain gula darah, kecukupan cairan menjadi pondasi utama kesehatan anak saat berpuasa untuk mencegah dehidrasi. Orang tua disarankan menerapkan rumus pembagian volume air yang ketat: dua gelas saat berbuka, empat gelas di malam hari, dan dua gelas saat sahur. Indikator paling sederhana untuk memantau status cairan anak adalah dengan memperhatikan frekuensi serta warna urin yang dihasilkan setiap enam jam.

Kualitas tidur juga memegang peranan vital dalam menjaga imunitas anak selama bulan suci ini. Perubahan pola bangun untuk sahur sering kali memangkas durasi istirahat anak hingga hampir dua jam dari standar normal.

Ia menyarankan agar kekurangan jam tidur ini diganti pada siang hari guna menjaga kebugaran anak. Jika anak kurang tidur, mereka akan cenderung menjadi rewel (cranky) dan sistem pertahanan tubuhnya bisa menurun.

Bagi anak dengan kondisi medis khusus seperti diabetes tipe 1 atau asma, puasa bukan berarti tidak mungkin dilakukan, namun harus dengan pengawasan ketat. Dokter menekankan bahwa pengaturan jadwal insulin dan penggunaan obat hirup harus dikonsultasikan secara personal karena sifatnya yang sangat individual.

"Orang tua wajib mengenali gejala klinis seperti lemas yang tidak wajar atau muntah sebagai sinyal untuk segera membatalkan puasa demi keselamatan anak," katanya.

Pemilihan menu sahur dan berbuka juga tidak boleh sembarangan dengan menghindari makanan yang memicu lonjakan gula darah sesaat. Karbohidrat kompleks sangat dianjurkan agar energi dilepaskan secara perlahan di dalam tubuh anak sepanjang hari. Protein, lemak sehat, dan serat dari sayuran harus tersedia dalam piring makan anak untuk menunjang pertumbuhan mereka yang masih terus berjalan meskipun sedang berpuasa.

Sebagai penutup, Wilda berpesan agar orang tua tidak perlu merasa ketakutan berlebih selama mampu memantau kondisi fisik anak secara saksama. Edukasi kesehatan yang diberikan sejak dini akan membuat anak lebih mengenali sinyal-sinyal dari tubuh mereka sendiri.

"Jangan ragu untuk mengenalkan secara lebih dini, karena ini keterkaitan dengan identitas sebagai muslim," katanya, sebagai motivasi bagi para orang tua untuk memulai latihan tanpa mengabaikan aspek medis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....