Kasus Flu Singapura Meningkat, Orang Tua Diminta Waspada

  • 12 Jun 2026 06:07 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Kasus Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD) atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Flu Singapura kembali menjadi perhatian. Penyakit akibat infeksi virus ini banyak menyerang anak-anak, terutama usia di bawah lima tahun, serta memiliki tingkat penularan yang tinggi.

Dokter Spesialis Anak RS SMC Samarinda, dr. Joko Purnomo Heroanto, menjelaskan bahwa istilah Flu Singapura sebenarnya kurang tepat digunakan karena penyakit tersebut tidak berasal dari Singapura. Penjelasan itu disampaikannya dalam program Indonesia Sehat, Kamis 11 Juni 2026.

Menurut dr. Joko, istilah medis yang benar adalah Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD), yang merujuk pada lokasi munculnya gejala khas penyakit tersebut, yakni pada tangan, kaki, dan mulut.

“HFMD tidak ada hubungannya dengan Singapura. Penyebutan Flu Singapura muncul karena pada awal tahun 2000-an pernah terjadi outbreak atau lonjakan kasus di Singapura. Karena saat itu gejalanya menyerupai flu, masyarakat Indonesia kemudian menyebutnya Flu Singapura,” ujarnya.

HFMD umumnya ditandai dengan munculnya ruam atau lesi kemerahan pada tangan, kaki, dan area sekitar mulut. Pada beberapa kasus, lesi juga dapat ditemukan di siku, lutut, bokong, hingga area genital.

Selain kelainan pada kulit dan rongga mulut, penderita HFMD dapat mengalami demam, nyeri tenggorokan, pegal atau nyeri sendi, penurunan nafsu makan, serta gejala menyerupai flu ringan. Namun, dr. Joko mengingatkan orang tua agar tidak langsung menyimpulkan anak terkena HFMD hanya karena mengalami sariawan atau ruam kulit.

“Yang paling sering membuat orang tua panik adalah munculnya banyak sariawan di dalam mulut anak. Akibatnya anak menjadi sulit makan, rewel, dan merasa tidak nyaman,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit ini. Virus penyebab HFMD dapat menular melalui percikan ludah (droplet) saat penderita batuk atau bersin. Selain itu, virus dapat bertahan di berbagai permukaan benda yang sering disentuh anak-anak.

“Meja, kursi, mainan, hingga fasilitas bermain umum dapat menjadi media penularan. Playground dan kolam mandi bola perlu mendapat perhatian karena penularan dapat terjadi dengan sangat mudah apabila ada anak yang sedang sakit,” ujarnya.

Kelompok yang paling rentan terinfeksi HFMD adalah anak usia di bawah lima hingga enam tahun. Risiko penularan meningkat ketika anak mulai aktif berinteraksi di lingkungan sosial, seperti kelompok bermain, tempat penitipan anak (daycare), maupun pendidikan anak usia dini.

Untuk mencegah penularan, dr. Joko mengimbau orang tua membiasakan anak menerapkan pola hidup bersih dan sehat, menghindari kontak dekat dengan anak yang sedang sakit, serta membatasi aktivitas di tempat bermain umum saat terjadi peningkatan kasus.

“Pastikan anak mendapatkan istirahat yang cukup, asupan gizi seimbang, dan menjaga kebersihan tangan agar risiko tertular HFMD dapat diminimalkan,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....