Skrining Talasemia Penting Dilakukan Pasangan Sebelum Menikah
- 30 Mei 2026 21:00 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Melakukan pemeriksaan kesehatan pra-nikah (pre-marital screening) kini tidak lagi sebatas formalitas, melainkan kebutuhan mendesak demi memutus rantai penyakit genetik. Salah satu penyakit keturunan yang paling krusial untuk dideteksi sejak dini oleh calon pengantin adalah thalasemia.
Pentingnya skrining kesehatan bagi calon pasangan suami istri ini ditegaskan oleh Kepala Instalasi Laboratorium RSJD Atma Husada Kaltim, dr. Dewi Paramita. Menurutnya, banyak orang dewasa yang merasa tubuhnya sehat dan bugar, namun ternyata membawa gen pembawa sifat (carrier) thalasemia minor tanpa gejala sama sekali.
Apabila sesama pembawa sifat thalasemia minor ini saling menikah, maka risiko melahirkan anak dengan kondisi thalasemia mayor atau tipe berat akan meningkat drastis. Berdasarkan hukum genetika Mendel, pasangan sesama carrier memiliki peluang hingga 50 persen melahirkan anak penderita thalasemia mayor yang harus bergantung pada transfusi darah seumur hidup.
"Penting untuk kita screening untuk orang dewasa ya terutama ini menjelang pernikahan supaya kalau misalnya ternyata diketahui bahwa keduanya merupakan pembawa thalasemia itu perlu dipertimbangkan lagi, perlu dikonselingkan lagi," kata Dewi pada Kamis, 21 Mei 2026.
Ia juga menambahkan kelakar mengenai situasi emosional yang kerap terjadi dalam konseling pranikah akibat penyakit genetik ini. "Apakah mereka ya kasarannya mungkin seperti judul telenovela, Cintaku Terhalang Thalasemia gitu kan, sedih banget kan," ujar Dewi menggambarkan dilema pasangan sesama pembawa sifat.
Pemeriksaan awal skrining thalasemia dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat di tingkat fasilitas kesehatan pertama seperti Puskesmas melalui tes darah lengkap. Melalui tes darah tersebut, parameter yang menjadi perhatian utama tim medis adalah kadar hemoglobin (HB) serta indeks eritrosit (MCV dan MCH) pasien.
Jika hasil lab menunjukkan nilai MCV di bawah 70 pikogram dan MCH di bawah 26, maka tim medis akan menaruh kecurigaan awal. Langkah selanjutnya adalah melakukan diagnosis banding untuk membedakan apakah kondisi tersebut murni karena anemia defisiensi besi yang marak di Indonesia atau akibat thalasemia.
Guna menegakkan diagnosis thalasemia secara akurat, pasien nantinya akan dirujuk ke rumah sakit besar untuk menjalani pemeriksaan khusus berupa elektroforesis hemoglobin. Skrining mendalam ini sangat direkomendasikan bagi siapapun yang memiliki riwayat anggota keluarga dekat penderita thalasemia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....