Di Balik Jeruji, Harapan Itu Masih Menyala
- 10 Jul 2026 17:38 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Sikka – Derit pintu besi kembali terdengar di Rumah Tahanan Polres Sikka, Kamis pagi, 9 Juli 2026. Namun kali ini, bukan panggilan pemeriksaan ataupun rutinitas pengamanan yang mengisi ruang tahanan. Suasana yang biasanya sunyi dan penuh pembatasan perlahan berubah menjadi ruang hening, tempat belasan pasang tangan terlipat dalam doa dan kepala tertunduk dalam perenungan.
Sebanyak 14 tahanan beragama Katolik duduk berjejer mengikuti Pembinaan Rohani (Binroh) yang diselenggarakan Satuan Tahanan dan Barang Bukti (Sat Tahti) Polres Sikka. Selama hampir satu jam, sejak pukul 08.30 hingga 09.15 Wita, mereka diajak menepi sejenak dari beban perkara yang sedang dijalani untuk mendengarkan Sabda Tuhan dan merefleksikan perjalanan hidup.
Di hadapan mereka, Diakon Febronius Meni Subun, SVD, menyampaikan bahwa setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk berubah. Masa penahanan bukan sekadar hukuman, tetapi juga ruang untuk mengenali kesalahan, membangun penyesalan yang bermakna, serta mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik ketika kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.
Pesan tentang pertobatan, kejujuran, tanggung jawab, pengampunan, dan harapan mengalir sederhana, namun sarat makna. Di balik wajah-wajah yang menyimpan beragam kisah, terselip harapan bahwa masa depan tidak harus ditentukan oleh kesalahan di masa lalu.
Dalam suasana yang penuh kekhusyukan, para peserta mengikuti doa bersama dan pembacaan Sabda Tuhan. Tak ada sekat antara petugas, pembina, dan warga binaan. Yang hadir adalah kesadaran bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
Bagi sebagian orang, rumah tahanan identik dengan hilangnya kebebasan. Namun pada pagi itu, ruang tahanan justru menjadi tempat lahirnya kebebasan batin. Kebebasan untuk mengakui kesalahan, memohon pengampunan, dan menumbuhkan tekad menjalani hidup dengan cara yang berbeda.
Kasat Tahti Polres Sikka, IPTU Abdul Gani, menegaskan bahwa pembinaan terhadap warga tahanan tidak berhenti pada aspek pengamanan dan kedisiplinan. Lebih dari itu, pembinaan mental dan spiritual menjadi bagian penting dalam proses pemulihan diri para tahanan.
Menurutnya, pembinaan rohani merupakan hak dasar warga binaan yang harus tetap dipenuhi selama menjalani masa penahanan. Karena itu, Polres Sikka secara konsisten memfasilitasi kegiatan keagamaan sesuai agama dan kepercayaan masing-masing sebagai bagian dari upaya membangun karakter serta kesiapan mereka untuk kembali ke kehidupan sosial.
Program seperti Binroh menjadi pengingat bahwa pembinaan bukan hanya tentang menjalani masa hukuman, melainkan juga tentang membangun harapan. Sebab, perubahan yang sejati sering kali berawal dari hati yang mau membuka diri untuk belajar, bertobat, dan memulai kembali.
Di balik jeruji besi Rumah Tahanan Polres Sikka, harapan itu masih menyala. Dan selama harapan tetap hidup, selalu ada kesempatan bagi seseorang untuk menulis babak baru dalam perjalanan hidupnya
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....