Lapak Sugeng, Hangatnya Ramadan Seorang Perantau
- 26 Feb 2026 18:48 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende - Menjelang waktu berbuka puasa, deretan lapak takjil mulai dipadati pembeli. Aroma gorengan hangat bercampur dengan riuh percakapan warga yang menunggu azan Magrib menambah semarak suasana sore di jalan Gatot Subroto Kota Ende.
Di antara keramaian itu, berdiri satu lapak sederhana milik Sugeng, yang sudah enam tahun setia hadir setiap Ramadan. Sejak siang hari, aktivitas di dapurnya telah dimulai. Sugeng menyiapkan berbagai menu berbuka, mulai dari ayam goreng, pepes ikan, telur balado, perkedel kentang, hingga aneka gorengan.
“Saya selalu memulai masak sejak pukul 10 pagi. Semua bahan saya potong, bumbui, dan masak dengan teliti supaya rasanya enak dan bersih saat sampai di tangan pembeli,” ujar Sugeng. Kompor menyala hampir tanpa jeda, dan masakan yang matang langsung dibungkus rapi agar praktis dibawa pulang pembeli.
Menjelang sore, Sugeng membawa masakan ke lapaknya dan menatanya dengan rapi. Tampilan sederhana namun bersih menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang melintas. Sugeng, pria kelahiran Lampung yang merantau ke Nusa Tenggara Timur sejak 2008, tinggal seorang diri sementara keluarga tetap berada di kampung halaman. Bagi Sugeng, Ramadan menjadi momen istimewa.
“Ramadan itu terasa berbeda. Ada suasana hangat yang muncul setiap menjelang Magrib. Bagi saya, ini bukan sekadar soal jualan, tapi juga tentang kebersamaan dengan warga,” katanya sambil menata piring-piring lauk pauk.
Melihat tingginya minat masyarakat terhadap lauk pauk siap santap, ia menjadikan bulan suci sebagai peluang usaha. Namun bagi Sugeng, bukan semata soal keuntungan. Sambil melayani pembeli, ia ikut menunggu azan berkumandang, sambil bercakap-cakap ringan dengan warga.
“Interaksi ini yang membuat saya betah di sini. Kadang pembeli bukan hanya membeli makanan, tapi juga bercerita tentang keluarga atau kegiatan mereka. Itu membuat suasana lebih hangat,” tambah Sugeng.
Ia menekankan pentingnya menjaga cita rasa dan kebersihan makanan. “Kepercayaan pembeli adalah modal utama. Saya selalu pastikan masakan bersih, segar, dan enak. Kalau pelanggan puas, itu kebahagiaan tersendiri,” ujarnya dengan senyum.
Di balik kesibukan dapur dan ramainya lapak lauk pauk milik Sugeng, tersimpan kisah seorang perantau yang tekun menyiapkan hidangan sejak siang hari, demi menjemput berkah yang datang setahun sekali di bulan Ramadan. Kehangatan dan keramahan yang tercipta di tepi jalan itu menjadi bukti bahwa setiap piring takjil membawa lebih dari sekadar rasa, tetapi juga cerita dan kebersamaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....