Ustaz Adi Hidayat: Muharram Momentum Hijrah dan Menjaga Kehormatan Diri

  • 29 Jun 2026 21:16 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Memasuki Tahun Baru Islam 1448 Hijriah merupakan nikmat besar yang patut disyukuri. Allah Swt. masih memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk bertemu dengan bulan pertama dalam kalender Hijriah, yakni Al-Muharram. Pergantian tahun bukan sekadar perubahan angka, melainkan momentum untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah.

Melansir kanal YouTube Adi Hidayat Official, nama Al-Muharram memiliki makna yang sangat mendalam. "Kata Muharram berasal dari akar kata haram, yaitu sesuatu yang dilarang oleh Allah. Akar kata yang sama juga melahirkan kata hurmah, yang berarti kehormatan atau kemuliaan," ujar Ustaz Adi Hidayat, dikutip Senin 29 Juni 2026.

Makna tersebut menunjukkan, setiap larangan Allah bukan untuk membatasi kebebasan manusia, melainkan menjaga kehormatan dan kemuliaan hamba-Nya.

Karena itu, berbagai perbuatan seperti berdusta, mencuri, menipu, korupsi, mabuk, dan berbagai bentuk kemaksiatan lainnya diharamkan. Seluruh perbuatan tersebut dapat meruntuhkan kehormatan seseorang, baik di hadapan manusia maupun di sisi Allah. Sebaliknya, meninggalkan segala yang diharamkan menjadi langkah awal untuk mengembalikan kemuliaan diri.

Bulan Al-Muharram mengingatkan bahwa hijrah sejati bukan sekadar berpindah tempat, melainkan berpindah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik, dari kemaksiatan menuju ketaatan, serta dari perilaku tercela menuju akhlak yang mulia.

"Oleh sebab itu, awal Tahun Baru Islam menjadi momentum yang tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, serta membangun kehidupan yang lebih baik," katanya.

Setiap orang, apa pun profesi dan kedudukannya, memiliki kewajiban menjaga kehormatan diri. Ulama, ustaz, guru, pejabat, pegawai, pengusaha, hingga masyarakat umum tidak luput dari kesalahan. Karena itu, Al-Muharram menjadi ajakan bagi setiap muslim untuk terus memperbaiki diri.

Kehormatan seseorang tidak hanya ditentukan oleh status sosial, tetapi juga tercermin melalui tutur kata, pandangan, pendengaran, sikap, dan setiap perbuatan yang dilakukan.

Allah Swt. menjelaskan kemuliaan bulan-bulan haram dalam firman-Nya: "Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu." (QS. At-Taubah: 36)

Ayat tersebut menerangkan bahwa dari dua belas bulan dalam setahun terdapat empat bulan yang dimuliakan, yaitu Zulqa'dah, Zulhijah, Al-Muharram, dan Rajab. Rasulullah saw. juga menegaskan hal tersebut dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah.

Melalui ayat tersebut, Allah juga berpesan, "Janganlah kamu menzalimi dirimu sendiri." Kezaliman tidak hanya berarti menyakiti orang lain, tetapi juga menyalahgunakan nikmat yang telah Allah berikan.

Lisan diciptakan untuk berkata baik. Karena itu, menggunakannya untuk berdusta, menghina, menggunjing, atau memfitnah merupakan bentuk kezaliman terhadap diri sendiri.

"Demikian pula mata yang diciptakan untuk melihat hal-hal yang baik, sehingga memandang sesuatu yang diharamkan juga termasuk bentuk kezaliman," ucapnya.

Begitu pula telinga, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh memiliki fungsi yang harus dijaga sesuai dengan fitrahnya.

Oleh karena itu, Al-Muharram menjadi waktu yang tepat untuk menata kembali seluruh aspek kehidupan. Memperbaiki prasangka, menjaga ucapan, memperbanyak amal saleh, menghindari kemaksiatan, serta memperkuat hubungan dengan Allah dan sesama manusia merupakan bentuk hijrah yang sesungguhnya.

Apabila setiap individu memulai perubahan dari dirinya sendiri, kemudian menerapkannya dalam lingkungan keluarga, akan lahir masyarakat yang lebih baik. Dari keluarga yang baik akan terbentuk bangsa yang bermartabat dan kehidupan sosial yang dipenuhi nilai kejujuran, amanah, serta saling menghormati.

Memperingati Tahun Baru Islam tidak cukup hanya dengan saling mengucapkan "Selamat Tahun Baru Hijriah". Yang lebih penting adalah memastikan bahwa diri kita benar-benar mengalami perubahan menuju kebaikan.

"Kehormatan yang Allah kehendaki bukan sekadar gelar atau jabatan, melainkan kemuliaan akhlak dan ketakwaan," ujarnya.

Semoga Al-Muharram 1448 Hijriah menjadi titik awal hijrah bagi kita semua. Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang lebih baik, keluarga yang lebih harmonis, masyarakat yang lebih bermartabat, serta bangsa yang senantiasa berada dalam keberkahan.

"Semoga pula kita diberi kekuatan untuk meninggalkan segala yang diharamkan, memperbanyak amal saleh, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah," katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....