Menelusuri Sejarah Lahirnya Kalender Hijriah

  • 17 Jun 2026 09:29 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Eksistensi Kalender Hijriah sebagai sistem penanggalan resmi umat Islam memiliki latar belakang sejarah yang sangat menarik untuk ditelaah. Berbeda dengan anggapan sebagian orang, kalender ini tidak serta-merta lahir pada masa hidup Nabi Muhammad saw.

Penanggalan ini dirumuskan secara resmi pada era kekhalifahan setelah melalui proses birokrasi dan musyawarah yang matang di antara para sahabat nabi. Dalam tayangan Mutiara Pagi, Ustaz Muhammad Khozin menguraikan kronologi sejarah penetapan awal tarikh Islam ini secara mendetail.

Kisah ini bermula ketika wilayah kekuasaan Islam kian meluas dan sistem tata kelola administrasi negara mulai menghadapi tantangan baru. Ketiadaan standardisasi penanggalan resmi pada dokumen negara memicu kebingungan di tingkat gubernur dan pejabat daerah.

Kondisi darurat administrasi tersebut memuncak saat Khalifah Umar bin Khattab menerima korespondensi resmi dari salah seorang gubernurnya yang bertugas di wilayah Basrah, Abu Musa al-As'ari. Surat tersebut memuat laporan penting namun tidak mencantumkan kejelasan waktu pengiriman yang spesifik. Hal ini menyulitkan sang Khalifah dalam menentukan prioritas tindakan dan pengarsipan dokumen negara.

"Penetapan kalender Hijriah ini berawal dari kebutuhan administrasi negara saat Khalifah Umar menerima surat tanpa penanggalan dari Abu Musa al-As'ari," ujar Ustaz Khozin, dikutip Rabu, 17 Juni 2026.

Merespons kendala tersebut, Khalifah Umar segera mengumpulkan para tokoh penasihat dan sahabat senior dalam sebuah majelis musyawarah agung. Dalam forum tersebut, muncul berbagai usulan mengenai peristiwa apa yang layak dijadikan sebagai tonggak awal penghitungan tahun Islam. Beberapa sahabat mengusulkan tahun kelahiran Nabi Muhammad, sementara yang lain mengusulkan tahun turunnya wahyu pertama atau wafatnya beliau.

Perdebatan dan adu argumentasi berlangsung dinamis hingga akhirnya sebuah ide brilian dikemukakan oleh Ali bin Abi Thalib. Sahabat Ali memandang bahwa peristiwa perpindahan kaum Muslim dari Makkah ke Madinah merupakan titik balik krusial yang memisahkan antara fase penindasan dan fase kejayaan Islam. Peristiwa hijrah dinilai memiliki bobot sosiologis dan teologis yang paling tepat untuk memulai sebuah era baru.

"Setelah melalui musyawarah panjang, atas usulan dari sahabat Ali bin Abi Thalib, momentum hijrahnya Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah resmi dijadikan awal tarikh Islam,” katanya.

Khalifah Umar bin Khattab menyetujui usulan tersebut dan secara resmi mendeklarasikan tahun terjadinya hijrah sebagai tahun pertama dalam kalender Islam, yang kemudian dinamakan Kalender Hijriah. Keputusan politis dan administratif ini membuktikan betapa tingginya visi kepemimpinan para sahabat dalam membangun fondasi peradaban Islam yang mandiri. Sejarah ini mengajarkan pentingnya musyawarah dan keteraturan tata kelola dalam kehidupan berbangsa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....