Idul Adha Gerakkan Ekonomi Rp25,3 Miliar di Kabupaten Probolinggo
- 31 Mei 2026 20:42 WIB
- Malang
RRI. CO. ID, Probolinggo – Momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah memberikan dampak signifikan terhadap perputaran ekonomi masyarakat di Kabupaten Probolinggo. Dinas Pertanian (Diperta) Kabupaten Probolinggo mencatat nilai transaksi hewan kurban tahun ini mencapai lebih dari Rp25,3 miliar.
Berdasarkan hasil pendataan hingga hari tasyrik terakhir, sebanyak 3.899 ekor ternak dipotong di 184 titik pemotongan yang tersebar di berbagai kecamatan di Kabupaten Probolinggo.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan dan Kesmavet) Diperta Kabupaten Probolinggo, drh. Nikolas Nuryulianto mengatakan tingginya jumlah hewan kurban yang dipotong menunjukkan besarnya partisipasi masyarakat dalam ibadah kurban sekaligus menjadi indikator bergeraknya roda perekonomian daerah.
“Berdasarkan hasil pendataan sampai hari tasyrik terakhir, jumlah ternak yang dipotong mencapai 3.899 ekor dengan total 184 titik pemotongan. Data ini terdiri dari sapi, domba dan kambing yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Probolinggo,” katanya.
| Baca juga: Amalan Utama 10 Hari di Bulan Dzulhijah |
Dari jumlah tersebut, ternak sapi tercatat sebanyak 689 ekor yang terdiri dari 603 ekor sapi jantan dan 86 ekor sapi betina. Sementara domba mencapai 2.499 ekor dan kambing sebanyak 711 ekor.
Menurut Nikolas, berdasarkan rata-rata harga ternak yang beredar di pasaran, nilai perputaran ekonomi selama Idul Adha tahun ini diperkirakan mencapai Rp25.347.500.000.
“Momentum kurban tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Nilai transaksi yang terjadi diperkirakan lebih dari Rp25 miliar,” ujarnya.
Perhitungan tersebut berasal dari nilai transaksi sapi yang mendekati Rp17 miliar, domba lebih dari Rp6,2 miliar dan kambing sekitar Rp2,1 miliar. Namun angka tersebut masih bersifat estimasi konservatif karena menggunakan harga rata-rata yang relatif lebih rendah dibanding harga jual riil di lapangan.
“Nilai ekonomi yang sebenarnya bisa lebih besar karena harga ternak di lapangan bervariasi dan sebagian berada di atas rata-rata yang kami gunakan dalam perhitungan,” jelasnya.
Selain mendata jumlah ternak kurban, petugas kesehatan hewan juga melakukan pemeriksaan ante mortem dan post mortem untuk memastikan kesehatan hewan serta keamanan daging yang dikonsumsi masyarakat.
Dari hasil pemeriksaan tersebut, petugas menemukan empat kasus cacing hati pada ternak kurban yang tersebar di tiga kecamatan berbeda.
“Kami menemukan empat kasus cacing hati pada ternak kurban. Jumlahnya memang kecil dibanding total ternak yang dipotong, tetapi tetap menjadi perhatian untuk penguatan program kesehatan ternak ke depan,” terangnya.
Temuan tersebut akan menjadi bahan evaluasi bagi Diperta untuk memperkuat program pengendalian parasit melalui pemberian obat cacing secara berkala kepada ternak milik peternak.
Menurut Nikolas, kesehatan ternak menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas dan keamanan pangan asal hewan. Karena itu, edukasi kepada peternak mengenai pentingnya pemberian obat cacing secara rutin akan terus ditingkatkan.
“Tujuan akhirnya adalah memastikan daging yang dikonsumsi masyarakat aman, sehat, utuh dan halal. Dengan ternak yang sehat, kualitas produk pangan asal hewan juga semakin terjamin,” katanya.
Ia menilai Idul Adha membuktikan sektor peternakan memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian daerah. Selain menggerakkan perdagangan ternak, kegiatan kurban juga berdampak pada sektor pendukung lainnya seperti penyedia pakan, jasa transportasi, rumah potong hewan hingga pelaku usaha kecil di sekitar lokasi pemotongan.
“Perputaran uang lebih dari Rp25 miliar menunjukkan sektor peternakan masih memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian Kabupaten Probolinggo,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....