Digitalisasi UMKM: Pencatatan Keuangan Jadi Kunci Usaha Bertahan dan Berkembang

  • 06 Jul 2026 12:47 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Digitalisasi dinilai masih menjadi faktor penting dalam keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Salah satu tantangan terbesar yang masih dihadapi pelaku UMKM bukan hanya pada pemasaran atau persaingan usaha, tetapi pada aspek paling dasar: pencatatan keuangan.

Hal tersebut disampaikan Rachmat Anggara, CEO (Cuan Everything Officer) Qasir.id atau yang ia sebut sebagai, dalam dialog di RRI Pro 1 Malang, belum lama ini. Ia menegaskan bahwa banyak pelaku UMKM masih belum memiliki sistem pencatatan yang rapi sehingga tidak mengetahui kondisi usaha mereka secara pasti.

“Surprisingly ternyata masih banyak. Jawabannya itu either masih hitung dulu, atau bahkan sekadar kira-kira saja sehari sejuta cukup,” ujar Angga saat dikonfirmasi pada Sabtu (4/7/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut berbahaya karena pelaku usaha tidak benar-benar mengetahui apakah bisnisnya sedang untung atau justru merugi.

“Padahal itu hal yang penting. Itu kan jantungnya usaha. Kita harus tahu kondisi kita lagi sehat atau tidak,” tambahnya.

Angga menyoroti bahwa banyak UMKM yang terlihat ramai secara transaksi, namun justru mengalami kerugian karena tidak melakukan pencatatan arus kas dengan benar. Ia menyebut fenomena tersebut sebagai kondisi yang sering tidak disadari pelaku usaha.

“Sering kejadian, tokonya ramai, tapi kalau dibreakdown malah makin ramai makin minus. Itu yang banyak tidak disadari,” katanya.

Selain berdampak pada pengelolaan usaha sehari-hari, minimnya pencatatan keuangan juga menjadi penghambat utama ketika UMKM ingin mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan. Tanpa data penjualan yang jelas, pelaku usaha sulit meyakinkan pihak bank atau investor.

“Ketika mau pengajuan pembiayaan, ditanya omzet berapa, mereka tidak punya catatan. Ada yang masih ditulis di bungkus rokok atau sekadar ingatan,” ungkapnya.

Angga menegaskan bahwa kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius mengingat UMKM memiliki peran besar dalam perekonomian Indonesia. Ia menyebut sektor ini menyerap banyak tenaga kerja dan berkontribusi sekitar 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Bayangkan kalau mayoritas pelaku usaha seperti itu, akan berat sekali untuk ekonomi kita,” ujarnya.

Karena itu, menurutnya, langkah awal digitalisasi yang paling penting bagi UMKM bukanlah teknologi yang kompleks, melainkan sistem pencatatan keuangan sederhana yang bisa membantu mereka memahami kondisi usaha secara nyata.

Ia juga menekankan bahwa digitalisasi seharusnya tidak membuat pelaku usaha merasa terbebani. Teknologi, kata dia, justru harus mempermudah, bukan mempersulit.

“Kalau teknologi malah membuat lebih ribet, itu jadi tantangan. Harusnya membantu, bukan menambah pekerjaan,” tegasnya.

Angga menambahkan, pihaknya melalui aplikasi kasir digital berupaya menghadirkan solusi pencatatan yang sederhana agar bisa digunakan oleh pelaku UMKM mikro sekalipun, tanpa perlu proses yang rumit atau pendampingan khusus.

“Karena mayoritas user kami itu mikro, jadi sistemnya harus super sederhana, tidak boleh bikin mereka bingung,” katanya.

Ia berharap semakin banyak pelaku UMKM yang mulai menyadari pentingnya pencatatan keuangan sejak dini agar usaha mereka bisa berkembang lebih sehat dan berkelanjutan.

“Kalau dari awal sudah tercatat dengan baik, itu akan sangat membantu ketika ingin berkembang,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....