Tradisi Etu Bani: Jejak Penghormatan Menantu Perempuan Malaka Tergerus Zaman

  • 24 Agt 2026 09:09 WIB
  •  Atambua

Ia berharap masyarakat tidak terburu-buru menganggap tidak dilaksanakannya Etu Bani sebagai hilangnya adat. Sebab, terdapat kondisi tertentu yang membuat sebuah keluarga memilih meniadakan atau mengubah pelaksanaannya.

Jika tradisi tidak dilaksanakan, menurut Pius, keputusan tersebut sebaiknya dikomunikasikan secara terbuka antara Uma Veto dan Uma Mane ketika pembicaraan adat berlangsung. Komunikasi itu penting agar keluarga besar memahami alasan peniadaan tradisi.

“Kalau Etu Bani tidak ada karena alasan tertentu, harus dikomunikasikan antara Uma Veto dan Uma Mane. Dengan begitu tidak menjadi pertanyaan keluarga lain,” ujar Pius.

Sementara itu pengakuan Adriani Nahak, kalangan generasi milenial asal suku Uma Lo’o Ikumuan mengisahkan pengalamannya, jalani tradisi Etu Bani dengan penuh semangat. “waktu itu saya tidak langsung laksanakan pada waktu yang sama, tetapi beberapa hari setelah pernikahan.”

Baginya, tantangan terbesar bukan sekadar mempertahankan bentuk prosesi Etu Bani, tetapi memastikan generasi muda memahami alasan mengapa tradisi tersebut harus dihargai. Karena itu, pendidikan menjadi salah satu ruang penting untuk menjaga ingatan budaya.

Perempuan yang juga anak keturunan Suku Uma Oe Umamolin dan Tafatik Kaberan Rai Umalor Kecamatan Malaka Barat itu mengatakan, Etu Bani pada akhirnya bukan sekadar tentang sajian nasi, daging, atau bawaan ternak babi, beras, atau selembar kain pemberian keluarga Uma mane.

Pose bersama rumpun keluarga kedua mempelai pasca pelaksanaan prosesi sae uma di rumah adat As Lakban Bonibais Malaka (Foto:Dok.Adriani Nahak)

“Di balik simbol-simbol tersebut tersimpan pesan tentang bagaimana sebuah keluarga menghargai orang tua, merawat kekerabatan, dan melayani dengan ketulusan. Ini adat to, jadi harus dijaga,” ujarnya tegas.

Tradisi itu juga mengingatkan bahwa kemajuan zaman tidak harus membuat masyarakat meninggalkan seluruh warisan leluhur. Justru melalui pemahaman generasi muda, nilai penghormatan dan kebersamaan dapat tetap hidup dalam bentuk yang sesuai perkembangan zaman.

Baik Pius maupun Adriani berharapa berharap Etu Bani tidak berhenti sebagai cerita dari masa lalu. Tradisi tersebut diharapkannya tetap menjadi bagian dari identitas masyarakat Malaka yang mengajarkan penghargaan, pelayanan, pengorbanan, kebajikan, serta ketulusan antarkeluarga.

Secara pribadi Pius juga mendorong budaya lokal seperti Etu Bani diperkenalkan melalui kurikulum muatan lokal di sekolah. Materinya tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi perlu dijelaskan, ditulis, dipraktikkan, bahkan disimulasikan agar mudah diterima generasi berikutnya.

“Muatan lokal seharusnya membicarakan budaya lama yang harus diterangkan dan dipraktikkan. Generasi harus memiliki hati untuk menerima budaya ini,” ucap Pius.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....