Tradisi Etu Bani: Jejak Penghormatan Menantu Perempuan Malaka Tergerus Zaman
- 24 Agt 2026 09:09 WIB
- Atambua
Tradisi ini memperlihatkan bahwa hubungan perkawinan dalam masyarakat Malaka tidak berhenti pada penyatuan dua individu. Perkawinan sekaligus membangun hubungan kekerabatan yang diikat melalui pelayanan, penghormatan, pengorbanan, dan keikhlasan.
“Nilai ini menjalin kekerabatan, saling menghargai, saling menghormati dan saling melayani. Semuanya berangkat dari keikhlasan hati, bukan sesuatu yang dibuat-buat,” ucap Pius.
Menariknya, Etu Bani tidak selalu dilakukan dengan cara dan di hari atau waktu yang sama. Ketika Uma Mane dan Uma Veto berada dalam satu kampung atau masih mudah dijangkau kendaraan, prosesi dapat dilakukan langsung pada malam pesta.
Namun, jarak geografis tidak serta-merta menghapus nilai adat tersebut. Ketika keluarga Uma Mane berada di Kupang, Flores, Jawa, atau tempat jauh lainnya, penghormatan dapat diwujudkan secara simbolis melalui rumah perwakilan.
Rumah yang ditunjuk itu menjadi rumah dekat atau rumah simbolis untuk mempertahankan makna penghormatan. Keluarga di rumah tersebut menikmati hidangan sebagai representasi keluarga Uma Mane yang tidak dapat hadir.
“Kalau Uma Mane ada di Kupang, Flores atau Jawa, nilai simboliknya tidak hilang. Rumah dekat ditunjuk untuk menunjukkan bahwa penghormatan itu tetap ada,” kata Pius.
Namun, Pius mengakui bahwa perkembangan zaman membuat pelaksanaan Etu Bani mulai mengalami pergeseran. Tradisi yang dahulu dilakukan secara kuat kini tidak selalu ditemukan dalam setiap pelaksanaan perkawinan masyarakat Malaka.
Menurutnya, pelaksanaan adat secara utuh memang membutuhkan waktu, biaya, tenaga, dan kesiapan keluarga. Tetapi, seluruh pengorbanan material tersebut tidak sebanding dengan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
“Kalau kita jalankan secara murni, memang rugi waktu, rugi biaya dan rugi tenaga. Tetapi dari segi memelihara nilai, ini tidak bisa diukur dengan material,” tutur Pius.
Meski mengalami pergeseran, sejumlah wilayah dan kelompok masyarakat masih mempertahankan Etu Bani. Pius menyebut tradisi tersebut masih berjalan di beberapa wilayah seperti Ikumuan di Malaka Barat, Kamanasa di Kecamatan Malaka Tengah, serta di Desa Weulun, Weoe di Kecamatan Wewiku-Malaka, serta lingkungan suku tertentu.
|
Selanjutnya,
Kalau Etu Bani tidak ada karena alasan tertentu
|
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....