Tradisi Etu Bani: Jejak Penghormatan Menantu Perempuan Malaka Tergerus Zaman

  • 24 Agt 2026 09:09 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua – Ketika pesta perkawinan adat berlangsung meriah, suara tawa dan percakapan keluarga yang memenuhi tenda sukacita. Namun, di balik kemeriahan itu, ada keluarga lain yang tidak sempat hadir dalam hajatan.

Dalam rangkaian tradisi pernikahan adat di Kabupaten Malaka, terutama wilayah dataran rendah (Wewiku -Wehali), tetap ada penghormatan yang berikan sebagai bakti menantu perempuan kepada mereka yang tidak hadir. Tradisi ini disebut “Etu Bani, atau Etu Bei Bani” mana menjadi simbol penghormatan yang dikenal masyarakat adat walau kian tergerus jaman.

Pius Seran B, S.Ag, tokoh masyarakat sekaligus pelaku budaya Kabupaten Malaka, menjelaskan Etu Bani secara sederhana sebagai sajian makanan kepada mertua. Tradisi tersebut menjadi bentuk penghargaan besar kepada orang tua dan kerabat dari keluarga Suami (Uma Mane) yang tidak dapat menghadiri hajatan.

“Etu itu nasi, Bei bani itu Mertua, artinya nasi untuk Mertua. Itu dilakukan sebagai penghargaan besar kepada seluruh mertua, Mama mantu dan Bapak mantu, Ba’i, Nenek, Om dan Tante yang tidak sempat hadir,” ujar Pius saat ditemui rri.co.id, Sabtu 22 Agustus 2026.

Dalam tradisi tersebut, menantu perempuan memiliki posisi penting sebagai pelaku utama pelayanan adat. Ia bersama beberapa saudara dan penghubung (Ai kalete) membawa makanan menuju Uma Mane ketika keluarga di tenda sukacita mulai menikmati hidangan pesta.

Kaba atau kose Oa Fen dalam rangkaian prosesi perkawinan adat Malaka yang berlangsung di rumah adat As Lakban Bonibais Malaka (Foto:Dok.Adriani Nahak)

Nasi harus tetap panas ketika diantarkan. Bagi Pius, panasnya makanan bukan persoalan teknis semata, melainkan simbol bahwa keluarga yang tidak hadir tetap memperoleh penghormatan dan hidangan yang sama.

“Nasi masih panas itu untuk menunjukkan kepada Bebani bahwa orang di tenda sukacita makan, orang Bebani juga makan. Jangan sampai mereka menerima makanan sisa,” tutur Pius.

Dalam pelaksanaan tertentu, Etu Bani tidak hanya berupa nasi dan lauk. Bisa juga hanya bawaan seekor babi bersama beras sekitar dua puluh hingga lima puluh kilogram untuk dimasak bersama keluarga Uma Mane.

Anak menantu turut membantu proses persiapan, termasuk ketika hewan disembelih dan makanan dimasak. Bahkan, dalam kondisi tertentu, proses memasak dapat berlangsung hingga pagi karena seluruh rangkaian pelayanan dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Setelah keluarga Uma Mane menerima dan menikmati hidangan, menantu perempuan bersama rombongan kembali ke tempat pesta. Sebagai bentuk penghargaan, keluarga Uma Mane memberikan satu lembar kain kepada menantu perempuan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....