Berwisata Menyingkap Peradaban Kota Tua Padang
- 04 Mar 2024 20:43 WIB
- Padang
KBRN, Padang : Berwisata ke Kota Padang dan kuliner merupakan hal wajib. Namun, rugi jika berkunjung ke jantung Sumatera Barat tanpa singgah ke Kota Tua Padang. Apalagi bagi yang selalu tertarik dengan wisata sejarah. Sebab di kawasan inilah peradaban Padang dimulai.
Wilayah yang berada di Kecamatan Padang Selatan ini, dulunya merupakan kota dagang. Danil, Pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kota Tua Padang mengatakan, saudagar dari berbagai negara di Eropa tercatat pernah merapat. Terlebih saat persekutuan dagang Belanda, Vereenogde Oostindische Copagnie (VOC) bercokol di Padang pada Abad 16. Ujung dari aliran Batang Arau dibangun menjadi pelabuhan.
"Dikenal dengan nama Pelabuhan Muaro. Tempat yang strategis mengangkut hasil bumi Minangkabau untuk dibawa ke Eropa. Rotan, kopi, hingga rempah menjadi komoditas yang diperdagangkan," ucapnya, Senin (4/3/2024).
Sekarang Pelabuhan Muaro masih aktif, meski tak sesibuk dulu. Gunanya untuk menyeberangkan orang dan barang menuju Kepulauan Mentawai. Pengiriman barang ekspor impor dialihkan ke Pelabuhan Teluk Bayur yang selesai dibangun di tahun 1893.
Jejak Pelabuhan Muaro indah dinikmati saat sore hari. Pantulan senja membuat kesan hangat perairan Batang Arau. Ditambah lagi gemerlap lampu warna-warni di jembatan Siti Nurbaya yang melengkung di atas muara sungai ini memberi kesan romantisme.
Nongkrong di Kota Tua
Berkunjung ke Kota Tua Padang, pelancong akan disambut bangunan bergaya eropa. Sebagian besar merupakan gudang atau loji penyimpan barang yang akan dikirim ataupun yang datang lewat Pelabuhan Muaro. Jumlahnya puluhan, statusnya cagar budaya.
Bilu pengurus Pokdarwis Gunung Padang mengungkapkan, kondisi loji itu ada yang masih berdiri kokoh dengan fungsi sebagai gudang. Loji yang masih terawat yakni Geo Wehry and Co dengan luas 118 meter persegi. Gedung ini berdiri sejak tahun 1911. Dulunya merupakan kantor perusahaan dagang.
"Tak semua loji terawat, ada pula yang nyaris hancur. Tak hanya soal usia, namun juga faktor guncangan gempa 2009," ulasnya.
Sebagian loji tua juga direhabilitasi tanpa merusak bentuk aslinya. Ada yang berubah fungsi menjadi kafe dan restoran kekinian. Cocok menjadi alternatif wisata kuliner dan nongkrong sembari menghabiskan malam di Kota Tua Padang.
Kuliner yang disuguhkan restoran di tepian Batang Arau beragam. Mulai dari kopi dengan berbagai varian, hingga olahan mie beraneka rasa. Restoran dan kafe dengan merk ternama hadir di Kota Tua Padang untuk menjajakan produknya.
Namun bagi pelancong yang ingin, mengudap makanan tradisonal bisa menikmatinya di kawasan wisata Batang Arau. Dari Kota Tua Padang naik ke Jembatan Siti Nurbaya, lalu berbelok ke kiri. Di situ pengunjung akan disambut pedagang lokal yang menjajakan kuliner lokal, seperti sate, soto, atau sekadar jagung dan pisang bakar menikmati angin laut saat malam.
Kota Tua, Kampung Multi Etnis
Kota Padang dulu kala merupakan pusat dagang yang dikunjungi berbagai etnis. Sebagian mereka pun memilih bermukim di Padang.
Terdapat 4 etnis dominan hidup berdampingan. Pertama pribumi Minangkabau yang dulunya datang dari daratan Solok, Agam, Tanah Datar, serta daerah lainnya. Kemudian Tiong Hoa, Nias, dan India.
Adyatama Pariwisata Ekonomi Kreatif Padang, Tri Pria Anugrah menjelaskan, eksistensi mereka menambah khazanah pariwisata di Padang. Klenteng See Hin Kiong yang menjadi pusat ibadah warga keturunan Ting Hoa di Padang, sekaligus menjadi daya tarik wisata. Klenteng tertua di Kota Padang ini dibangun tahun 1841 silam.
"Dulunya bernama klenteng Kwan Im Teng. Keluarga-keluarga Tiong Hoa lantas sepakat untuk mengubah nama menjadi See Hin Kiong," ungkapnya.
Tahun 1861 klenteng tersebut sempat hangus terbakar. Kemudian dibangun kembali di tahun 1893. Kerusakan kembali terjadi akibat bencana gempa di Padang tahun 2009. Klenteng itu rusak berat.
Setelah gempa dibangun kembali tahun 2010 di lokasi berbeda, berjarak 100 meter dari lokasi semula. Kemeriahan di klenteng bisa disaksikan saat Imlek. Barongsai dan tradisi etnis Tiong Hoa lainnya disuguhkan untuk umum.
Begitupula masyarakat keturunan India di Padang yang dulunya menetap sebagai saudagar rempah. Jelang Jumadil Akhir dalam penanggalan Islam, mereka menggelar serak gulo. Berton gula yang dibungkus kain warna-warni disebar dari atas Masjid Muhammadan. Masyarakat tumpah ruah untuk berdesakan mengikuti dan menyaksikan tradisi ini.
Sementara masyarakat Minangkabau eksis dengan Festival Siti Nurbaya. Rutin digelar jelang memperingati hari jadi Kota Padang di awal bulan Agustus. Beberapa event seru seperti Pawai Telong-Telong, Makan Bajamba, Lomba Drama Kolosal Siti Nurbaya, hingga pameran UMKM.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....