Batik Shanumesty, Menghidupkan Keindahan Batik dari Ranah Minang

  • 13 Nov 2025 21:32 WIB
  •  Padang

KBRN, Padang: Di tengah maraknya tren batik printing yang serba instan, kehadiran Batik Shanumesty menjadi angin segar bagi para pecinta batik tulis autentik. Didirikan oleh Shekar Hanum Pramesty, atau akrab disapa Hanum, brand ini lahir dari semangat melestarikan batik tulis tradisional dan memperkenalkan kekayaan warna alam khas Sumatera Barat.

Pada tahun 2023, Hanum mendirikan Batik Shanumesty. Karya-karyanya dikenal eksklusif karena dibuat sepenuhnya dengan tangan serta menggunakan pewarna alami.

Salah satu teknik yang ia kembangkan adalah batik tanah liek, yang pewarnaannya berasal dari rendaman tanah liat. “Kain putih direndam beberapa hari dalam tanah liat, dan dari situ muncul warna coklat khas yang dikenal sebagai batik tanah li,” jelas Hanum.

Ia menegaskan bahwa perbedaan utama antara batik tanah liek dan batik tulis pada umumnya terletak pada proses pewarnaan, bukan pada motif. “Batik tanah liek dikenal dari warna alamnya yang berasal dari tanah liat. Tapi di Shanumesty, kami menggabungkannya dengan teknik batik tulis menggunakan malam atau lilin sebagai perintang warna,” ujarnya.

Proses ini menjadikan setiap kain memiliki karakter unik dan keindahan yang alami. Menurut Hanum, banyak masyarakat yang masih keliru membedakan antara batik tulis dan batik printing.

“Kalau batik tulis, motif di bagian depan dan belakang kain itu sama, warnanya tembus, dan punya aroma khas malam,” ucap Hanum. Sedangkan batik printing hanya berwarna di satu sisi dan tidak memiliki aroma khas lilin batik. Proses pembuatan batik tulis di Shanumesty dimulai dari kain putih polos. Kain itu digambar sesuai pola motif, lalu dicanting menggunakan malam.

“Garis-garis malam itulah yang membentuk motif batik,” ujar Hanum. Ia menambahkan, tahap mencanting merupakan bagian paling menantang. “Kalau cantingannya rapi, warna juga akan tertata rapi. Enggak ada warna yang bocor keluar dari pola,” katanya.

Kini, Batik Shanumesty menghadirkan dua teknik utama: batik tulis dan batik cap. “Kalau yang cap, harganya mulai dari Rp400 ribu untuk satu set sarung dan selendang. Tapi kalau yang tulis bisa sampai Rp1,8 juta, tergantung kerumitan motif dan jumlah warna,” kata Hanum. Ia menambahkan, semakin detail motif dan banyak warna yang digunakan, semakin panjang proses produksinya.

Untuk satu set sarung dan selendang batik tulis, waktu pengerjaan bisa mencapai dua hingga empat minggu, bahkan lebih. “Kalau motifnya sederhana, mungkin dua minggu. Tapi kalau banyak warna dan detail, bisa sampai sebulan baru selesai,” tuturnya.

Meski memerlukan waktu lama, setiap karya Batik Shanumesty memiliki nilai eksklusif tersendiri. “Kalau sudah diproduksi satu, enggak akan dibuat sama lagi. Itulah keindahan batik tulis,” kata Hanum.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....