Melawan Batas lewat Pendidikan: Perjuangan Kartini untuk Perempuan
- 21 Apr 2026 08:13 WIB
- Tarakan
RRI. CO. ID, Tarakan - Perjuangan Raden Ajeng Kartini tidak bisa dilepaskan dari satu hal penting: pendidikan. Di tengah kondisi masyarakat Jawa pada akhir abad ke-19 yang masih membatasi perempuan, Kartini justru melihat pendidikan sebagai jalan utama untuk mengubah nasib dan cara pandang. Sejak kecil, Kartini sudah merasakan bagaimana pendidikan membuka wawasan. Ia sempat bersekolah di lembaga pendidikan Belanda, di mana ia belajar membaca, menulis, dan mengenal dunia luar. Namun, kesempatan itu harus terhenti ketika ia memasuki masa pingitan di usia 12 tahun. Sejak saat itu, aksesnya terhadap pendidikan formal tertutup sebuah realita yang juga dialami banyak perempuan pada zamannya.
Keterbatasan tersebut tidak membuat Kartini menyerah. Justru dari situlah muncul kesadaran bahwa perempuan sangat membutuhkan pendidikan. Ia melihat bahwa tanpa ilmu, perempuan akan terus berada dalam posisi yang lemah, tidak punya pilihan, dan sulit berkembang.Kartini kemudian melanjutkan “perjuangannya” dengan cara yang berbeda. Ia belajar secara mandiri di rumah, membaca buku, majalah, dan surat kabar dari Eropa. Selain itu, ia aktif menulis surat kepada teman-temannya di Belanda untuk bertukar pikiran tentang pendidikan, kebebasan, dan masa depan perempuan. Pemikiran-pemikirannya itu kemudian dihimpun dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.
Dalam surat-suratnya, Kartini dengan tegas menyuarakan bahwa pendidikan adalah hak setiap manusia, termasuk perempuan. Ia menolak anggapan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi. Baginya, perempuan yang terdidik akan mampu berpikir mandiri, mengambil keputusan, dan berperan lebih besar dalam masyarakat.
Tidak hanya berhenti pada gagasan, Kartini juga mengambil langkah nyata. Ia mendirikan sekolah bagi anak perempuan di Jepara. Sekolah ini menjadi simbol perlawanan terhadap sistem yang selama ini membatasi akses pendidikan bagi perempuan. Di sana, anak-anak perempuan diajarkan membaca, menulis, serta pengetahuan dasar yang bisa membantu mereka berkembang.
Perjuangan Kartini di bidang pendidikan memang tidak berlangsung lama karena ia wafat di usia muda. Namun, pemikirannya menjadi fondasi penting bagi perubahan di Indonesia. Setelah itu, semakin banyak sekolah yang dibuka untuk perempuan, dan perlahan pandangan masyarakat mulai berubah.
Kini, perempuan Indonesia memiliki kesempatan yang jauh lebih luas untuk mengenyam pendidikan. Apa yang dulu diperjuangkan Kartini telah menjadi bagian dari kehidupan saat ini. Meski begitu, semangatnya tetap relevan bahwa pendidikan adalah kunci untuk melawan keterbatasan dan menciptakan perubahan. Melalui peringatan Hari Kartini, masyarakat diingatkan bahwa perjuangan Kartini bukan sekadar sejarah, tetapi juga dorongan untuk terus memperjuangkan pendidikan yang setara bagi semua.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....