Ustazah Heryanti di RRI Tarakan: Begini Makna Syukur yang Sebenarnya
- 05 Mar 2026 14:34 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Ibadah puasa bukan hanya soal menahan lapar, tetapi juga momentum untuk mengasah rasa syukur. Dalam program "TAULADAN" yang disiarkan di Programa 2 RRI Tarakan menghadirkan Ustazah Heryanti, S.H.I., membedah tuntas makna syukur yang sering kali disalahpahami masyarakat sebagai sekadar ucapan lisan.
Ustazah Heryanti menekankan bahwa syukur yang sesungguhnya adalah ungkapan kebahagiaan atas nikmat yang diperoleh, yang kemudian diwujudkan melalui tindakan nyata.
"Syukur bukan hanya mengucap Alhamdulillah, tapi bagaimana kita menggunakan nikmat itu sesuai keinginan sang Pemberi Nikmat," tuturnya dalam tayangan bertajuk Makna Syukur yang Sesungguhnya".
Ia mencontohkan penggunaan lisan yang harus dijaga dari kata-kata kotor dan justru diisi dengan zikir atau membaca Al-Qur'an. Demikian pula dengan nikmat mata, kaki, dan anggota tubuh lainnya yang harus diarahkan pada hal-hal positif dan ibadah, terutama di bulan suci Ramadan.
Salah satu poin menarik yang disampaikan adalah janji Allah untuk menambah nikmat bagi mereka yang bersyukur.
Mengutip Al-Qur'an, Ustazah Heryanti mengingatkan bahwa jika manusia pandai berterima kasih, maka pintu-pintu keberkahan lainnya akan terbuka lebar, menjadikannya hamba yang istimewa di mata Tuhan.
Program yang dipandu oleh Teo ini juga menyoroti fenomena sosial di mana orang sering mengeluhkan hidupnya. Ustazah mengingatkan bahwa hidup yang kita keluhkan mungkin adalah hidup yang sangat diimpikan oleh orang lain. Ia mengajak jamaah untuk sesekali melihat ke bawah agar rasa syukur mudah tumbuh.
Dalam sesi tanya jawab, Ustazah juga memberikan tips agar anak muda terhindar dari rasa insecure dengan cara memperbanyak syukur. Ia menekankan bahwa setiap orang memiliki "porsi" sukses yang berbeda dan tidak perlu membandingkan diri dengan pencapaian orang lain secara berlebihan.
Sebagai penutup, Ustazah Heryanti mengajak seluruh pendengar dan penonton RRI Tarakan untuk terus memperbaiki diri dan menyayangi orang tua sebagai bentuk syukur atas kehadiran mereka dalam hidup. Pesan ini diharapkan dapat menginspirasi warga Tarakan untuk menjalani sisa Ramadan dengan hati yang lebih tenang.